Tuesday, July 24, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

Doa-doa harian dalam bulan Ramadhan.



Yaa Allah! Jadikanlah Puasa Ku Sebagai Puasa Orang-Orang Yang Benar- Benar Berpuasa. Dan Ibadah Malam Ku Sebagai Ibadah Orang-Orang Yang Benar-Benar Melakukan Ibadah Malam. Dan Jagalah Aku Dan Tidurnya Orang-Orang Yang Lalai. Hapuskanlah Dosa Ku ... Wahai Tuhan Sekalian Alam!! Dan Ampunilah Aku, Wahai Pengampun Para Pembuat Dosa.



Doa Hari 2



Yaa Allah! Dekatkanlah Aku Kepada Keredaan-Mu Dan Jauhkanlah Aku Dan Kemurkaan Serta Balasan-Mu. Berilah Aku Kemampuan Untuk Membaca Ayat-Ayat-Mu Dengan Rahmat-Mu, Wahai Maha Pengasih Dari Semua Pengasih!!



Doa Hari 3



Yaa Allah! Berikanlah Aku Rezki Akal Dan Kewaspadaan Dan Jauhkanlah Aku Dari Kebodohan Dan Kesesatan. Sediakanlah Bagian Untuk Ku Dari Segala Kebaikan Yang Kau Turunkan, Demi Kemurahan-Mu, Wahai Dzat Yang Maha Dermawan Dari Semua Dermawan!



Doa Hari 4



Yaa Allah! Berikanlah Kekuatan Kepada Ku, Untuk Menegakkan Perintah- Perintah-Mu, Dan Berilah Aku Manisnya Berdzikir Mengingat-Mu. Berilah Aku Kekuatan Untuk Menunaikan Syukur Kepada-Mu, Dengan Kemuliaan-Mu. Dan Jagalah Aku Dengan Penjagaan-Mu Dan Perlindungan- Mu, Wahai Dzat Yang Maha Melihat.



Doa Hari 5



Yaa Allah! Jadikanlah Aku Diantara Orang-Orang Yang Memohon Ampunan, Dan Jadikanlah Aku Sebagai Hamba-Mu Yang Sholeh Dan Setia Serta Jadikanlah Aku Diantara Auliya'-Mu Yang Dekat Disisi-Mu, Dengan Kelembutan-Mu, Wahai Dzat Yang Maha Pengasih Di Antara Semua Pengasih.



Doa Hari 6



Yaa Allah! Janganlah Engkau Hinakan Aku Kerana Perbuatan Maksiat Terhadap-Mu, Dan Janganlah Engkau Pukul Aku Dengan Cambuk Balasan- Mu. Jauhkanlah Aku Dari Hal-Hal Yang Dapat Menyebabkan Kemurkaan-Mu, Dengan Anugerah Dan Bantuan-Mu, Wahai Puncak Keinginan Orang-Orang Yang Berkeinginan!



Doa Hari 7



Yaa Allah! Bantulah Aku Untuk Melaksanakan Puasanya, Dan Ibadah Malamnya. Jauhkanlah Aku Dari Kelalaian Dan Dosa-Dosa Nya. Dan Berikanlah Aku Dzikir Berupa Dzikir Mengingat-Mu Secara Berkesinambungan, Dengan Taufiq- Mu, Wahai Pemberi Petunjuk Orang- Orang Yang Sesat.



Doa Hari 8



Yaa Allah! Berilah Aku Rezki Berupa Kasih Sayang Terhadap Anak-Anak Yatim Dan Pemberian Makan, Serta Penyebaran Salam, Dan Pergaulan Dengan Orang-Orang Mulia, Dengan Kemuliaan-Mu, Wahai Tempat Berlindung Bagi Orang-Orang Yang Berharap



Doa Hari 9



Yaa Allah! Sediakanlah Untuk Ku Sebagian Dari Rahmat-Mu Yang Luas, Dan Berikanlah Aku Petunjuk Kepada Ajaran-Ajaran-Mu Yang Terang, Dan Bimbinglah Aku Menuju Kepada Kerelaan-Mu Yang Penuh Dengan Kecintaan- Mu, Wahai Harapan Orang-Orang Yang Rindu.



Doa Hari 10



Yaa Allah! Jadikanlah Aku Diantara Orang-Orang Yang Bertawakkal Kepada-Mu, Dan Jadikanlah Aku Diantara Orang- Orang Yang Menang Disisi-Mu, Dan Jadikanlah Aku Diantara Orang-Orang Yang Dekat Kepada- Mu Dengan Ihsan-Mu, Wahai Tujuan Orang-Orang Yang Memohon.



Doa Hari 11



Yaa Allah! Tanamkanlah Dalam Diriku Kecintaan Kepada Perbuatan Baik, Dan Tanamkanlah Dalam Diriku Kebencian Terhadap Kemaksiatan Dan Kefasikan. Jauhkanlah Dariku Kemurkaan-Mu Dan Api Neraka Dengan Pertolongan-Mu, Wahai Penolong Orang-Orang Yang Meminta Pertolongan.



Doa Hari 12



Yaa Allah! Hiasilah Diriku Dengan Penutup Dan Kesucian. Tutupilah Diriku Dengan Pakaian Qana'ah Dan Kerelaan. Tempatkanlah Aku Di Atas Jalan Keadilan Dan Sikap Tulus. Amankanlah Diriku Dari Setiap Yang Aku Takuti Dengan Penjagaan-Mu, Wahai Penjaga Orang-Orang Yang Takut.



Doa Hari 13



Yaa Allah! Sucikanlah Diriku Dari Kekotoran Dan Kejelekan. Berilah Kesabaran Padaku Untuk Menerima Segala Ketentuan. Dan Berilah Kemampuan Kepadaku Untuk Bertaqwa, Dan Bergaul Dengan Orang-Orang Yang Baik Dengan Bantuan-Mu, Wahai Dambaan Orang-Orang Miskin.



Doa Hari 14



Yaa Allah! Janganlah. Engkau Hukum Aku, Kerana Kekeliruan Yang Ku lakukan. Dan Ampunilah Aku Dari Kesalahan-Kesalahan Dan Kebodohan. Janganlah Engkau Jadikan Diriku Sebagai Sasaran Bala' Dan Malapetaka Dengan Kemuliaan-Mu, Wahai Kemuliaan Kaum Muslimin.



Doa Hari 15



Yaa Allah! Berilah Aku Rezki Berupa Ketaatan Orang-Orang Yang Khusyu'. Dan Lapangkanlah Dadaku Dengan Taubatnya Orang-Orang Yang Menyesal, Dengan Keamanan-Mu, Wahai Keamanan Untuk Orang-Orang Yang Takut.



Doa Hari 16



Yaa Allah! Berilah Aku Kemampuan Untuk Hidup Sebagaimana Kehidupan Orang-Orang Yang Baik. Dan Jauhkanlah Aku Dari Kehidupan Bersama Orang-Orang Yang Jahat. Dan Naungilah Aku Dengan Rahmat-Mu Hingga Sampai Kepada Alam Akhirat. Demi Ketuhanan-Mu Wahai Tuhan Seru Sekalian Alam.



Doa Hari 17



Yaa Allah! Tunjukkanlah Aku Kepada Amal Kebajikan Dan Penuhilah Hajat Serta Cita-Cita Ku. Wahai Yang Maha Mengetahui Keperluan, Tanpa Pengungkapan Permohonan. Wahai Yang Maha Mengetahui Segala Yang Ada Didalam Hati Seluruh Isi Alam. Selawat Dan Salam Atas Junjungan Mulia Nabi Muhammad s.a.w Dan Keluarganya Yang Suci.



Doa Hari 18



Yaa Allah! Sedarkanlah Aku Akan Berkah-Berkah Yang Terdapat Di Saat Saharnya. Dan Sinarilah Hatiku Dengan Terang Cahayanya Dan Bimbinglah Aku Dan Seluruh Anggota Tubuhku Untuk Dapat Mengikuti Ajaran-Ajarannya, Demi Cahaya-Mu Wahai Penerang Hati Para Arifin.



Doa Hari 19



Yaa Allah! Penuhilah Bagianku Dengan Berkah-Berkahnya, Dan Mudahkanlah Jalanku Menuju Kebaikan-Kebaikannya. Janganlah Kau Jauhkan Aku Dari Ketenteraman Kebaikan- Kebaikannya, Wahai Pemberi Petunjuk Kepada Kebenaran Yang Terang.



Doa Hari 20



Yaa Allah! Bukakanlah Bagiku Pintu-Pintu Syurga Dan Tutupkanlah Bagiku Pintu-Pintu Neraka, Dan Berikanlah Kemampuan Padaku Untuk Membaca Al-Quran Wahai Penurun Ketenangan Di Dalam Hati Orang-Orang Mu'min.



Doa Hari 21



Yaa Allah! Berilah Aku Petunjuk Menuju Kepada Keredaan- Mu. Dan Janganlah Engkau Beri Jalan Kepada Setan Untuk Menguasaiku. Jadikanlah Syurga Bagiku Sebagai Tempat Tinggal Dan Peristirahatan, Wahai Pemenuh Keperluan Orang- Orang Yang Meminta.



Doa Hari 22



Yaa Allah! Bukakanlah Bagiku Pintu-Pintu Kurniaan-Mu, Turunkan Untuk ku Berkah-Berkah Mu. Berilah Kemampuan Untuk ku Kepada Penyebab- Penyebab Keredaan-Mu, Dan Tempatkanlah Aku Di Dalam Syurga-Mu Yang Luas, Wahai Penjawab Doa Orang-Orang Yang Dalam Kesempitan.



Doa Hari 23



Yaa Allah! Sucikanlah Aku Dari Dosa-Dosa, Dan Bersihkanlah Diriku Dari Segala Aib. Tanamkanlah Ketaqwaan Di Dalam Hatiku, Wahai Penghapus Kesalahan Orang-Orang Yang Berdosa.



Doa Hari 24



Yaa Allah! Aku Memohon Kepada-Mu Hal-Hal Yang Mendatangkan Keridhoan- Mu, Dan Aku Berlindung Dengan- Mu Dan Hal-Hal Yang Mendatangkan Kemarahan-Mu, Dan Aku Memohon Kepada-Mu Kemampuan Untuk Mentaati-Mu Serta Menghindari Kemaksiatan Terhadap-Mu, Wahai Pemberi Para Peminta.



Doa Hari 25



Yaa Allah! Jadikanlah Aku Orang-.Orang Yang Menyintai Auliya-Mu Dan Memusuhi Musuh-Musuh Mu. Jadikanlah Aku Pengikut Sunnah-Sunnah Penutup Nabi-Mu, Wahai Penjaga Hati Para Nabi.



Doa Hari 26



Yaa Allah! Jadikanlah Usaha ku Sebagai Usaha Yang Di syukuri, Dan Dosa-Dosa ku Di ampuni, Amal Perbuatan Ku Diterima, Dan Seluruh Aib ku Di tutupi, Wahai Maha Pendengar Dan Semua Yang Mendengar.



Doa Hari 27



Yaa Allah! Rezkikanlah Kepadaku Keutamaan Lailatul Qadr, Dan Ubahlah Perkara-Perkara ku Yang Sulit Menjadi Mudah. Terimalah Permintaan Maafku, Dan Hapuskanlah Dosa Dan Kesalahanku, Wahai Yang Maha Penyayang Terhadap Hamba- HambaNya Yang Sholeh.



Doa Hari 28



Yaa Allah! Penuhkanlah Hidupku Dengan Amalan-Amalan Sunnah, Dan Muliakanlah Aku Dengan Terkabulnya Semua Permintaan. Dekatkanlah Perantaraanku Kepada-Mu Diantara Semua Perantara, Wahai Yang Tidak Tersibukkan Oleh Permintaan Orang-Orang Yang Meminta.



Doa Hari 29



Yaa Allah! Liputilah Aku Dengan Rahmat Dan Berikanlah Kepadaku Taufiq Dan Penjagaan. Sucikanlah Hatiku Dan Noda-Noda Fitnah Wahai Pengasih Terhadap Hamba- HambaNya Yang Mu'min.



Doa Hari 30



Yaa Allah! Jadikanlah Puasa ku Disertai Dengan Syukur Dan Penerima Di Atas Jalan Keredahaan-Mu Dan Keredaan Rasul. Cabang-Cabangnya Kukuh Dan Kuat Berkat Pokok-Pokoknya, Demi Kenabian Muhammad Dan Keluarganya Yang Suci, Dan Segala Puji Bagi Allah Tuhan Sekalian







Friday, July 6, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

~Hidayah Disebalik Kabus~

Aku punya seorang rakan baik dari zaman kanak-kanak. Lim Wei Choon. Sama-sama bersekolah rendah hingga ke peringkat menengah . Selepas SPM, aku masuk ke Tingkatan 6, manakala Lim dihantar keluarganya melanjutkan pelajaran ke Amerika Syarikat. Kenangan sewaktu kanak-kanak hingga ke zaman remaja terlalu banyak yang dikongsi bersama.

Setiap kali hari raya menjelang, Lim pasti berkunjung ke rumah ku untuk menikmati dodol arwah ayahku yang amat digemarinya. Kadangkala, jika ada kenduri kendara di rumahku, pasti Lim akan turut serta. Aku jarang ke rumahnya kecuali untuk beberapa sambutan seperti hari jadi dan juga Tahun Baru Cina. Aku takut dengan anjing peliharaan keluarga Lim.





Dengan Lim juga aku belajar matematik manakala subjek Bahasa Malaysia sering menjadi rujukannya padaku. Kenangan-kenangan seperti memancing, mandi jeram, ponteng sekolah untuk melihat pertandingan 'breakdance', semuanya kami kongsi bersama-sama. Apa yang ingin kunyatakan ialah, warna kulit dan perbezaan ugama tidak pernah menjadi penghalang persahabatan kami. 20 tahun telah berlalu, Lim telah menetap di Amerika setelah berjaya mendapat Green Card, beliau bekerja di sana. Itu yang kuketahui dari kakaknya.





Hubungan ku dengan Lim terputus setelah dia melanjutkan pelajaran. Maklumlah, di zaman kami dulu tiada internet, email atau telefon bimbit, yang ada cuma sesekali menghantar poskad bertanya khabar. Untuk menulis surat kepada lelaki amat malas kami rasakan.

Suatu pagi, Aku bertembung dengan kakak Lim di pasar , kakaknya memberitahu Lim akan pulang ke tanah air. Dan aku amat terkejut dengan berita yang kudengar dari kakaknya.

" He's name is no more Lim Wei Choon. He's now Ahmad Zulfakar Lim since 5 years ago. ..Subhanallah!

Syukur Alhamdulillah, rakan baikku telah menemui hidayah dari Allah S.W.T. Memang aku tak sabar untuk berjumpa dengannya lebih-lebih lagi setelah menjadi saudara seagama denganku.

Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba, dan petang itu aku berkesempatan bertemu dengan Lim di rumahnya. Ada satu keraian istimewa sempena menyambut kepulangannya. Ketika aku tiba, tetamu sudah semakin berkurangan. ..

Assalamualaikum..Itulah kalimat pertama dari mulutnya, wajahnya sudah jauh berubah, air mukanya amat redup dan tenang.



Aku menjawab salam dan berpelukan dengannya dan kami menangis umpama kekasih yang sudah terlalu lama terpisah.

'Ini dia olang memang sudah manyak lama kawan, dari kecik ini dua olang". Ibu Lim menjelaskan pada beberapa orang tetamu yang melihat peristiwa kami berpelukan dan menangis itu. Tetapi aku bukan menangis kerana apa, tetapi kerana amat sebak dan terharu dan sangat bersyukur melihat keislaman rakanku. Lim mengajak aku duduk di buaian di halaman rumahnya untuk berbual-bual. Beliau masih fasih berbahasa Melayu walau sudah lama berada di perantauan.





Talha, kau kawan baik aku kan? betul tak? . Memanglah..Kenapa kau tanya macam tu? Kalau kau kawan baik aku, Kenapa kau biarkan aku diseksa?



 Sorry Lim. Aku tak faham..diseksa? What do you mean?

Cuba kau fikir, kita ni kawan dari kecil. Aku ingat lagi, rumah kau tu, is my second house.

Tapi, mengapalah kau tak pernah ceritakan pada aku tentang Islam? Mengapa aku kena pergi ke US baru aku dapat belajar tentang Islam? Mengapa bukan di Malaysia, negara Islam ni?



Dan mengapa aku diIslamkan oleh seorang bekas paderi kristian?





Aku terdiam, kelu tak mampu menjawab. Dan Lim terus berkata-kata.Kalau betullah kau kawan baik aku, Kenapa kau cuma nak baik dengan aku di dunia saja? Kau suka tengok kawan baik kau ni diseksa di dalam api neraka?

Kau tahu, kalaulah aku ni tak sempat masuk Islam hingga aku mati. Aku akan dakwa semua orang melayu Islam dalam kampung kita ni sebab tak sampaikan dakwah dan risalah Islam pada aku, keluarga aku dan non muslim yang lain.Kau sedar tak, kau dah diberikan nikmat besar oleh Allah denagn melahirkan kau didalam keluarga Islam. Tapi, nikmat itu bukan untuk kau nikmati seorang diri, atau untuk keluarga kau sendiri, kau dilahirkan dalam Islam adalah kerana ditugaskan untuk sampaikan Islam pada orang-orang yang dilahirkan dalam keluarga bukan Islam macam aku.



Aku masih tunduk dan tak terkata apa-apa kerana sangat malu. Berdakwah adalah tugas muslim yang paling utama, sebagai pewaris Nabi, penyambung Risalah.



Tetapi apa yang aku lihat, orang Melayu ni tidak ada roh jihad, tak ada keinginan untuk berdakwah, macamana Allah nak tolong bangsa Melayu kalau bangsa tu sendiri tak tolong ugama Allah? Aku bukan nak banggakan diri aku, cuma aku kesal..sepatutnya nikmat ini kau kena gunakan dengan betul dan tepat, kerana selagi kau belum pernah berdakwah, jangan kau fikir kau sudah bersyukur pada Allah.

Dan satu lagi, jangan dengan mudah kau cop orang-orang bukan Islam itu sebagai kafir kerana kafir itu bererti ingkar. Kalau kau dah sampaikan seruan dengan betul, kemudian mereka ingkar dan berpaling, barulah kau boleh panggil kafir.

Aku menjadi amat malu, kerana segala apa yang dikatakan oleh Lim adalah benar! Dan aku tak pernah pun terfikir selama ini. Aku hanya sibuk untuk memperbaiki amalan diri sehingga lupa pada tugasku yang sebenar.



Baru aku faham, andainya tugas berdakwah ini telak dilaksanakan, Allah akan memberikan lagi pertolongan, bantuan dan kekuatan serta mempermudahkan segala urusan dunia dan akhirat seseorang itu.Petang itu aku pulang dengan satu semangat baru. Aku ingin berdakwah!





Lim yang baru memeluk Islam selama 5 tahun itu pun telah mengislamkan lebih 20 orang termasuk adiknya. Mengapa aku yang hampir 40 tahun Islam ini (benarkah aku islam tulen) tidak pernah hatta walau seorang pun orang bukan Islam yang pernah kusampaikan dengan serious tentang kebenaran Islam?





Semoga Allah mengampuni diriku yang tidak faham apa itu erti nikmat dilahirkan sebagai Islam.

Thursday, July 5, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

~Cintanya Awan Pada Hujan~

“Hujan, tolong jangan pergi...” Kata Awan..



“Awan..., ada waktunya melepaskan itu lebih baik. Aku tidak sanggup melihatmu menanggung beban di dadamu hanya kerana tidak ingin aku pergi.”..Kata Hujan



Tapi aku masih mampu...” Kata Awan..



Hujan tersenyum sambil berkata  “Ya, mungkin kau masih mampu. Tapi sampai bila kau akan mampu bertahan?..”



Awan terdiam....



“Aku harus patuh pada perentah Tuhan. Dan kau pun harus akur pada takdirNya. Dia tahu betapa beratnya kau menanggung beban, kerana itu Dia perintahkan aku untuk turun ke bumi membasahi hamparan ciptaanNya yang Maha Agong menyejukkan tanah-tanah gersang yang lebih memerlukan aku daripada kau perlukan aku.” Kata Hujan...



Didada Awan semakin sedih, kesedihan itu membuatkan jiwa Awan terlalu mendung...



“Wahai Awan..Sungguh, kadang-kadang melepaskan itu lebih baik walaupun saat itu terasa begitu berat sekali. Tapi, Allah kan ada? Mengapa mahu bersedih?” Kata Hujan pada Awan...Hujan sebak menahan perasaan....



“Pergilah kau Hujan. Aku rela demi Tuhanku dan Tuhanmu Hanya demi Tuhanku aku redha..Terima kasih Hujan. Mendengar kata-katamu, aku lebih mengenal siapa diriku.” Kata Awan....



“Allahuuuuuu Rabbiiiiiiiiiiiiiii Selamat tinggal wahai Awan. Doakan aku bermanfaat untuk mereka yang lain... Allahuakbar!!!!!!!!” Jerit Hujan bersama guruh berdentum kuat...



Airmata Awan jatuh tanpa henti-henti kerana tersedar kembali lalu insaf kerana selama ini cintanya pada Hujan melebihi cinta pada Ilahi.



Hujan pun turun bersama air mata. Sakit. Saat melepaskan. Tapi Allah lebih tahu segalanya. Perasaan ini hanya sementara. Mungkin Langit tidak akan mengerti akan kesakitan Awan dan Hujan. Langit hanya menyaksikan. Tapi belum tentu Langit itu faham pengorbanan.

Awan, Hujan menghadiahkanmu Pelangi. Kamu lihat bukan? Subhananllah...

Thursday, June 28, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

~Wanita Solehah Bertanya~

 Wanita Solehah bertanya:

Awak,
Kita tidak berpegangan tangan seperti mereka,
melafaz kata cinta saling balas-balasan,
bahkan sering ada jarak antara kita tercipta,
dan wujud pelbagai batasan di larang Tuhan,
Kita ini bercintakah?

Awak,
Kita ini tidak sering berhubungan,
tiada bicara manis selalu beriringan,
dan masing-masing sibuk dengan diri untuk dipersiapkan.
Kita ini bercintakah?

*(◕‿◕) (◕‿◕) *•¸.•´`¸.•´``•.¸`•.¸.¸¸.•*(◕‿◕) (◕‿◕)

Lelaki Soleh menjawab:



Awak,

Kita ini bercinta,
cuma bukan dengan definisi mereka.
Tetapi dengan definisiNya.

Belum waktunya untuk melangkaui batas yang ada,
sekarang adalah masa untuk mempersiapkan diri kita.
Manis hubungan bukan pada PEGANGAN TANGAN,
juga bukan pada bicara kata MANIS CINTA BERBALAS-BALASAN,
tetapi dengan hubungan kita terhadap HUKUM Tuhan,
dan sejauh mana kita menjaga pasangan dari SEKSA neraka.

Nanti bila bersama,
kita bukanlah keluarga biasa,
bahkan pasangan yang siap untuk menembus syurgaNya.

Awak,
Bukankah itu adalah CINTA?



Wednesday, June 20, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

~Jiwa Yang Cantik~


Jiwa yang cantik ialah:



Melukis KEKUATAN

melalui

MUSIBAH DAN UJIAN



Mengukir SENYUMAN

dikala saat jiwa di himpit

RESAH DAN KESAYUAN



Sentiasa TERTAWA

saat hati sedang

MENANGIS PILU DI JIWA



Terus TABAH

dan istiqomah di saat diri

DIHINA PENUH GUNDAH



Akhlak MEMPERSONA

kerana sifat

KEMAAFANNYA



Terus MENGASIHI

tanpa mengharap

BALASAN INSANI



Bertambah KUAT

dalam setiap doanya mengharap

REDHA TUHAN YANG ESA..

Wednesday, June 13, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

Ya Allah Sweetnya❤(。◕‿◕。) (。◕‿◕。) ❤ Jom baca..

Suami tercium bau dari dapur..Apa agaknya disediakan isteri untuk minum petang..

Suami : (senyap2 datang kepada isteri dari belakang, lalu memeluknya) Sayang, masak apa tu?

Isteri : Abang! Terkejut Iza..Emm (menyenangi pelukan suaminya) Iza goreng cekodok ikan bilis kegemaran abang (tersenyum sambil sandar di badan suami yang memeluknya) Abang duduk dulu di depan, nanti Iza siapkan minum petang kita.


Minum petang dihidangkan si isteri…

Suami : (berkerut dahi selepas minum air yang dituangkan isteri)

Isteri : Kenapa bang??Tak sedap ke air Iza buat?? (Lalu diminum air dalam cawan suaminya) Manis je ni bang?

Suami : (Diambilnya cawan tersebut dan minum dibekas bibir isterinya) Barulah MANIS! ^^

Isteri : Saje je abng ni kacau Iza! (Cubit paha suaminya!)

*(◕‿◕) (◕‿◕) *•¸.•´`¸.•´``•.¸`•.¸.¸¸.•*(◕‿◕) (◕‿◕)

Indahnya TAHAJUD malam andai terlaksana TANDA cinta hamba
kepada TUHANNYA..

Merdunya zikir di bibir tiada HENTI membasahi lidah tanda RINDU kepada
PEMILIK JIWA..

Tenangnya AIR MATA mengalir sejuk terasa TANDA insaf mohon diampunkan
DOSA kepada YANG MAHA PEMURAH..

Kusyuknya SUJUD terlaksana setiap masa TANDA taat setia kepada Pemilik
alam di seluruh SEMESTA..

Damai dan TENANG di jiwa mula dirasai TANDA kasih sayang ALLAH kepada
setiap hambaNYA..


Thursday, June 7, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

.•*❤Mahar Cinta Seutas TASBIH.•*❤

MUJAHID : Awak , maafkan saya.. Tasbih pemberianmu ini telah terputus sepertimana putusnya ikatan antara kita. Mungkin inilah petanda bahawa kita tidak berjodoh.

MUJAHIDAH : Ha..MasyaAllah tapi kenapa? .. (Mujahidah terdiam,terpaku dan terkedu seketika)


MUJAHID : Ketika jemariku Menari di Atas TASBIH CINTA pemberianmu , ketika itu jugalah ku melabuhkan DOA kepadaNya yg Esa,


'' Ya Tuhan! Kalau seseorang itu bukan jodohku,tolong dijauhkannya dariku dan gantikannya dengan yang lebih baik, dan jika dia memang jodohku maka  didekatkanlah dia dengan cara-Mu dan aturan-Mu '' ..

'' DEMI MAHAR CINTA SEUTAS TASBIH , KUBERHARAP PADA MU YA RABBI AGAR CINTAKU PADA MU TERUS BERTASBIH KE JALAN MU ''

Monday, June 4, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

~Cinta Disebalik Tirai Takdir~Kisah benar...

Sejak dua tiga hari lepas, hujan turun membasahi bumi kampus UiTM. Cuaca yang sukar diramal bukanlah prioriti bagi sebahagian besar pelajar yang menghuni daerah ini. Tentu saja fokus kebanyakan mereka tertumpu pada peperiksaan akhir tahun kurang sebulan dari sekarang.

Aku membuang pandang ke luar jendela. Sisa-sisa hujan masih mengisi suasana persekitaran. Dada langit yang diseliputi mendung putih kekelabuan, menabiri dunia dari pandangan seorang lelaki bernama aku.

“Adi  jom pergi kafetaria”... Aku menoleh lambat-lambat. Din yang sedang duduk di birai katil kelihatan begitu rileks dan santai.

Kejap lagi la”... Bicaraku mati seketika.

Hujan-hujan macam ni, malas pulak aku nak menapak ke kafetaria tu”... Sambungku lagi.

Din memandang lesu ke arahku. Sebuah keluhan kecil dilepaskannya.

Mana-mana la Adi, janji kau bahagia”... Suaranya kedengaran datar sahaja. Aku tahu dia cuba menunjukkan sikap protes dengan keenggananku menemaninya ke kafetaria. Tapi entah mengapa aku terasa malas sekali hendak kemana-mana pada petang yang dingin begini. Aku lebih selesa bersenang-senang sambil membaca buku didalam bilik asrama tingkat tiga itu.

Deringan telefon bimbit bernada Pink Panther mengejutkanku. Milik Din rupanya. Dia bingkas bangkit lalu keluar dari bilik menuju ke koridor. Mungkin dia enggan perbualannya didengariku. Aku melangu sendirian. Sudah dua hari Ayu tidak menghubungiku. Bila telefon bimbitnya kuhubungi, hanya suara operator yang kedengaran. Setidak-tidaknya balaslah sms yang kukirimkan. Tapi dia tetap menyepi. Ya, aku akui aku sedang dalam proses mendapatkannya. Dalam erti kata lain, menjadikannya temanku yang istimewa. Aku sedang berusaha. Dan nampaknya tindak balas dari Ayu agak positif. Atau adakah aku yang tersalah tafsir?

Petang, dua hari yang lepas. Sewaktu kami menyusuri koridor bilik komputer, sehabis kuliah, dia berkata sesuatu kepadaku. Katanya hal itu amat penting. Wajahnya sugul sahaja sewaktu menuturkan bait-bait bicara dihadapanku. Aku bertanya perkara apa. Namun dia hanya membisu dan cuba mempamerkan senyum. Walaupun aku tahu senyuman itu bukan lahir atas kerelaan. Pun begitu, dia berjanji akan menghubungiku dan menjelaskan apa yang selama ini dia ingin aku ketahui. Dan pantas menjadikan aku terkapai-kapai dalam arus tandatanya yang tiba-tiba menerjah fikiran?

Benarlah kata orang; penantian itu adalah suatu penderitaan. Sudah dua hari aku tidak menemuinya. Gusar hatiku entah bagaimana lagi untuk kuleraikan. Hati lelakiku benar-benar tidak tenteram.
Pagi, tumpuanku terhadap pelajaran agak kurang. Fikiranku melayang entah kemana saja. Sedaya upaya kukerahkan perhatian pada apa yang disampaikan oleh Professor Rahman, namun aku gagal. Tetap jua ingatanku melayang pada Ayu. Aku rindu pada senyumannya. Aku rindu pada lirikan mata bundarnya. Aku rindu pada dirinya. Aku rindu!!! Untuk apa dia mendera perasaanku sebegini? Untuk apa??!! Kelibatnya langsung tak kelihatan. Janjinya untuk menghubungiku hanya tinggal janji. Boleh jadi gila andai terus-terusan aku melayan perasaan. Namun bagaimana pula harus aku nafikan apa yang bersarang dijiwa? Ahh, aku benci kekalutan sebegini.
Tengahari itu, suasana agak lengang. Perpustakaan yang luas dan senyap sunyi itu meminjamkan aku sedikit ketenangan. Sekurang-kurangnya itu lebih baik daripada terperap didalam bilik asrama yang pengap dan sempit. Seleraku tumpul untuk menjamah sebarang makanan. Aku hanya ingin bersendirian. Sewaktu aku sedang membaca sebuah buku berkenaan kewangan, aku terpandang ada seseorang yang sedang memerhatikanku. Namun aku lebih senang untuk membiarkan sahaja. Mungkin itu hanya perasaan semata-mata. Tambah pula, aku tiada nafsu untuk ambil pusing keadaan sekelilingku buat masa ini.

“Adi”... Pendek dan lembut sekali suara itu, tetapi tetap perlahan. Aku mengangkat pandangan. Dihujung meja tempatku mengulangkaji, berdirinya Figura Ayu. Segaris senyuman yang terselit keikhlasan menghiasi wajah manisnya. Renungannya begitu redup.

“Ayu”... Lidahku kelu untuk meneruskan bicara. Harus apa lagi yang mampu terluah dari isi hatiku, tatkala gadis yang kurindu berdiri didepan mata. Hadirnya dia, mengusir segunung kegusaran yang mendiami perasaan. Melukis wajah pelangi dijiwa resahku.

“Mari”... ujarnya lagi. Senyum tidak putus-putus meniti ulas bibirnya.
Aku melabuhkan punggung dibangku kayu. Suasana persekitaran taman botani yang damai dan dingin melontarkan ketulusan yang tersendiri kedalam tiap-tiap jiwa yang disapanya. Ayu mengambil tempat disebelahku. Wajahku direnungnya sekilas.

“Adi, maafkan aku”... Kata-kata yang terlontar keluar dari kotak suaranya mengikis keheningan yang membaluti suasana ketika itu. Aku masih mengunci lidah. Menanti penjelasan dari Ayu.

Aku tak berniat nak buat kau tertunggu-tunggu”.... Sebuah keluhan kecil dilepaskannya perlahan. Sugul mula menabiri riak mukanya.


Ada terlalu banyak perkara yang aku nak kau tahu”... Tapi... Bicaranya putus disitu. Bagaikan ada beban yang maha berat merantai lidahnya daripada terus berkata-kata.
Hatiku dijalari rasa simpati terhadap Ayu. Naluriku membisikkan yang sesungguhnya dia tidak berdusta. Tona suara dan air mukanya mencerminkan sebuah kekeruhan yang tak tergambar. Dia tunduk merenung rerumput. Sekali-sekala, hujung kakinya menguis-nguis daun kering yang bergelimpangan.

Ayu, kau ada masalah ke? Tak nak share..?”  Buat beberapa ketika, suasana hanya terisi oleh melodi angin dan nyanyian burung-burung kecil yang singgah diranting pepohon. Awan yang berarak perlahan, seolah-olah turut sama berkongsi rasa dengan insan kerdil yang dinaunginya.

Adi, ini bukan masa yang sesuai untuk aku ceritakan apa yang aku pendam selama ni. Aku janji, lepas exam nanti, kau akan tahu segala-galanya tentang aku” Aku mula mencerna kata-kata Ayu sebentar tadi. Apa sebenarnya yang dia cuba sampaikan? Persoalan mula menggayuti tabir mindaku.

Aku tak faham apa maksud kau”  Pandanganku mencerun ke arahnya. Beberapa helai daun kering yang gugur, melayang-layang ditiup angin lalu mendarat tidak jauh dari bangku kayu yang kami duduki.

“Adi, please... Aku tak nak bebankan fikiran kau... Tak lama lagi kita nak final... Lepas exam nanti kau akan tahu juga... Cuma... Aku nak minta satu je”... Aku membuang pandang ke arah pokok bunga teluki merah yang tumbuh subur dihujung bangku kayu. Panorama persekitaran kian menampakkan bias-bias senja. Perhatianku kembali tertumpu kepada Ayu.
“Apa dia?” Aku bertanya sambil lewa. Seraya menggenggam tanganku, Ayu bersuara,

Janji dengan aku, kau akan buat yang terbaik untuk final nanti... Lupakan sekejap pasal aku... Aku nak kau berjaya Adi... Aku tak mahu kau kecewa.” Aku terpana. Terlalu besar apa yang kau harapkan dariku. Dan sudah tentu, perit pula untuk kugalas harapan dari sebuah permintaan yang puncaknya melangit tinggi. Sesungguhnya aku telah pun kau kecewakan Ayu. Cuma saja, tak kuungkapkan dari bibirku. Hari-hari tanpamu, takkan pernah sama seperti ketika yang lalu.

Pertemuan pada petang itu adalah pertemuan terakhir antara aku dan Ayu. Aku akui bukan mudah untuk kujalani waktu-waktu yang mendatang tanpa kehadirannya. Dengan segenap memori dan nostalgia yang tergarap didalam lipatan kenangan, dengan segaris senyum dan tawa yang mengukir kedinding ingatan, apa mungkin aku beroleh kekuatan buat menepis segala yang pernah tercipta antara dia dan aku? Harapan, apakah masih kau menyebelahiku? Ya Tuhan, teguhkanlah pendirianku dalam menghadapi semua ini.

Ahh, hari-hari terakhirku dikampus, terasa amat panjang untuk dilalui. Telah berkali kucuba menghubungi Ayu, namun hampa jua yang kuperoleh. Suasana kampus UiTM ini kian sepi. Namun tetap tiada mampu mengatasi rasa sepi yang menyelimuti hati. Sebahagian besar penghuni asrama telah kembali ke ceruk rantau masing-masing. Fikiranku buntu. Apa yang kubuat serba tak kena. Esok, aku akan berangkat pulang ke tanah tumpah darahku. Berita dari Ayu tetap tak kunjung tiba. Aku merasa seolah-olah diperbodohkan. Haruskah aku terus menanti janji? Sedangkan janji takkan mungkin terisi. Aku kembali merenung ke luar jendela, dengan pandangan dan benak yang kosong.

“Adi... Adi... Tunggu”..., Aku segera menoleh kearah datangnya suara itu. Hasliza tergocoh-gocoh berlari menghampiriku. Nafasnya termengah-mengah kerana penat berlari.

Kau tak balik lagi ke Liza?”, Pertanyaan kulontarkan sambil mataku merenung wajahnya. Mentari pagi menebarkan cahaya indahnya kesegenap ruang yang termampu dijangkau sinarnya.

Nak balik la ni, aku tengah tunggu kau”... Dahiku berkerut. Benakku mula tertanya-tanya, mahu apa dia menungguku?

Apa pasal pulak kau tunggu aku?” Bangku simen sebelah barat daya youth floor menjadi sasaran tempatku menghenyakkan punggung. Hasliza tidak segera menjawab. Dia mengambil posisi disebelahku lalu duduk tanpa dipelawa. Dari celah beg galas, dia mengeluarkan sesuatu.

“Aku cuma nak serahkan benda ni kat kau,” Mataku tertancap pada sekeping sampul surat berwarna ungu muda yang ditunjukkan oleh Hasliza. Tidak terdapat sebarang tulisan diatasnya. Suasana direndai sepi. Bunyi kicau unggas di persekitaran, bagaikan simfoni latar yang mengisi kesunyian antara kami.

“Ayu minta aku tolong serahkan pada kau. Tapi... Dia pesan, buka hanya bila kau dah sampai dirumah... Aku gerak dulu”... Aku membelek-belek sampul surat berwarna ungu muda. Hatiku tiba-tiba merasa geram terhadap Ayu. Bukankah dulu dia telah berjanji. Berjanji untuk menyatakan sendiri perihal hidup dan segala-gala tentang dirinya. Kini, kau telah memungkirinya Ayu.

Apabila sudah sampai di rumah badan kuhempaskan ketilam empuk. Terasa selesa dan santai sekali. Tiada yang lebih indah daripada dapat kembali kerumah orang tua sendiri. Bilik ini tetap sama seperti sebelum pemergianku ke kampus dahulu. Tetap sahaja kemas dan bersih. Sudah tentu mama yang menguruskannya. Seharian dalam perjalanan, membuatkan badanku terasa sengal. Otakku pula tak henti-henti berpusing memikirkan sikap Ayu. Pelbagai andaian timbul dari dalam ruang fikirku. Namun, sekarang mindaku terlalu letih untuk berfikir. Aku ingin rehat. Dalam aku melayan perasaan, akhirnya aku terlelap.

“Adi... Bangun... Dah nak masuk maghrib dah ni..!” Ketukan dipintu yang bertingkah dengan suara emak, menyedarkanku dari lena yang tak mengenal waktu. Dibirai katil, aku duduk sambil menggosok mata dengan belakang tangan. Suara muazzin yang berkumandang melaungkan azan dari hujung kampung, sayup-sayup kedengaran. Aku berdiri malas. Tuala yang terlipat didalam almari pakaian segera kucapai. Langkah kuatur menuju kebilik mandi yang terletak beberapa meter dari bilikku.

Ha, cepat sikit mandi tu. Boleh berjemaah sekali..!” Dari arah belakang, suara abah yang parau menerjah gegendang telingaku. Aku mengangguk dua, tiga kali sebelum melangkah kedalam bilik mandi.

Selesai solat isyak dan makan malam, aku menonton tv diruang tamu. Rancangan komedi yang bersiaran sesekali mengundang derai tawa seisi keluargaku. Dikampus, jarang benar aku menonton tv. Masa seharian hanya terisi dengan aktiviti pelajaran dan pergaulan sesama teman. Sudah tentu bezanya terlalu jauh jika mahu dibandingkan dengan kehidupan bersama keluarga. Hampir pukul sebelas baru aku berganjak dari ruang tamu. Menapak kebilik mandi untuk mengambil wuduk sebelum tidur dalam langkah yang malas. Sekali sekala aku menekup mulut kerana menguap.

Lambaian Ayu yang bertudung dan berkurung putih, menggamit pandanganku. Taman yang indah dengan warna warni bebunga dan nyanyian unggas gagal menambat perhatian. Aku segera berlari mendapatkannya.

Ayu”... Laungku dalam turun naik nafas. Kelibat Ayu kian menjauh, terselindung dibalik pepohon yang tumbuh rapat. Aku berhenti seketika. Termengah-mengah dengan peluh yang mula membasahi baju. Dalam aku mengatur nafas, bayang Ayu muncul dihadapanku. Bibirnya terukir senyum yang amat indah. Renungan matanya redup dan bersinar. Cukup membuatkan aku terpana.

Ayu”.... Namanya kuseru perlahan. Dia langsung tidak menyahut panggilanku, hanya senyumannya yang kian mekar. Entah secara tiba-tiba, kawasan taman bunga itu diselaputi kabus putih. Makin lama makin tebal. Menyerkup aku dan Ayu kedalamnya. Beberapa detik kemudian, kabus itu kian susut lantas menghilang diusir bayu lembut yang mengelus kulit badanku. Ayu sudah tiada lagi ditempatnya. Yang tinggal hanya senyap sunyi dalam kemuraman suasana. Aku berpusing-pusing disekitar taman, mencari kelibatnya Ayu. Namun aku gagal menemui gadis yang bernama Ayu itu.

“Ayuuuu”.... Pekikku dalam kekecewaan. Hatiku benar-benar disentuh kepiluan yang teramat.

“Adi.. Adi.. Bangun... Apa ni, terpekik terlolong”... Suara parau abah menerkam gegendang telingaku lagi. Aku terkejut bangun. Belakang tangan kugosokkan ke kelopak mata. Abahku yang berdiri dihujung katil memandangku dengan wajah serius berbaur hairan.

“Ada apa abah ?” Soalan ku ajukan pada abah. Abah tidak segera menjawab. Dia menggeleng-gelengkan kepala dengan pandangan yang mencerun kearahku.

“Engkau tu ha, mengigau”.... Dia berhenti seketika kemudian menyambung

“Dah, pegi sambung tidur. Jangan lupa ambil wuduk sebelum nak tidur tu”... Abah segera berlalu meninggalkan aku dalam tandatanya. Apabila selesai solat aku berbaring kembali. Jam didinding bilik menjadi tumpuan mataku. Hampir pukul tiga pagi. Aku cuba melelapkan mata, namun sia-sia sahaja cubaanku itu. Akhirnya aku bangkit dari katil lalu beredar ke meja belajar. Mimpi tentang Ayu berlegar-legar didalam kepalaku. Seakan-akan benar terasa, situasi bertemu Ayu saat itu.

Tiba-tiba aku teringat dengan sampul surat berwarna ungu muda yang ditunjukkan Hasliza kepadaku semasa di youth floor pagi semalam. Segera kucapai beg galas yang tesadai di atas meja belajar. Disebalik celahan buku, terselit sampul surat ungu muda yang kucari. Tanganku pantas sahaja mengoyak hujung sampul surat lantas mengeluarkan isinya. Rangkap-rangkap didalam surat tulisan tangan milik Ayu meniti mataku. Satu persatu isinya merasuk benak hatiku.

Assalamualaikum Mohd Rusdi Ramlee...
Maafkan aku, sekiranya kita terpaksa bertemu dalam keadaan yang tak seperti kau inginkan. Aku tak berniat mempermainkan perasaan kau. Tapi aku sendiri tak berupaya mengelakkan semua ini. Benar, memang aku sengaja tak nak bertemu kau saat-saat akhir kita di kampus. Aku tak nak kau melihat aku dalam keadaan yang kau tak boleh terima. Ayu sayangkan Adi. Sungguh dari hati kecilku, aku hanya menginginkan kau. Dan aku percaya, kau juga merasai apa yang aku rasai. Kerana kasihku pada kau, aku tak ingin kau kecundang dalam pelajaran kerana semata-mata memikirkan aku. Aku mahu yang terbaik untuk diri kau sendiri. Percayalah Adi, aku tak pernah merelakan perbuatanku menjauhi kau. Aku mahu kau selalu disisiku. Tapi takdir bukan seperti yang kita fikir. Aku harus akur, kalau kiranya takdirku mendahului segala-galanya. Terlalu banyak persoalan yang aku sendiri tak mampu memberi jawapan. Kau berhak membenciku atas apa yang telah aku lakukan terhadap kau. Aku terima kebencian kau itu. Ketahuilah Adi, aku sakit... Sakit yang aku sendiri tak tahu puncanya. Saban waktu aku menanggungnya. Perit, sengsara, hingga ada ketikanya aku menginginkan supaya mati menjemputku lebih awal. Doktor sendiri gagal memberikan apa-apa keputusan mengenai penyakitku. Dah puas keluargaku membawaku berubat merata kampung, namun semuanya menghampakan. Sedangkan hari demi hari aku makin terseksa. Entah sampai bila harus kutanggung derita ini. Aku hanya berserah pada Allah, Adi. Adi, walaupun tak pernah ku ucapkan kata-kata cinta pada kau, didalam hatiku kata-kata cinta itu telah kubisikkan setiap kali kau hadir untukku. Aku sentiasa rindu untuk melihat kau. Namun aku tak mahu memberikan kau harapan. Aku tak mahu kau kecewa. Dalam keadaanku yang begini, tak mungkin kau mampu kuberi bahagia. Dah banyak air mataku menitis menahan sakit dan rindu terhadap kau. Mungkin inilah pengorbananku yang terakhir. Selepas ini tiada lagi air mata yang akan mengalir dan sakit yang memeritkan. Saat kau membaca warkah ini. Aku mungkin dah tiada lagi, Adi. Pergi membawa rasa cintaku pada kau. Adi, maafkanlah aku untuk setiap kesilapan yang pernah kulakukan selama kau mengenaliku. Kau adalah hadiah yang paling istimewa buatku semasa aku hidup. Walaupun pertemuan ini cukup singkat, buat sedetik, aku merasakan begitu bahagia bila disamping kau. Kalaulah mampu kuucapkan sendiri dengan lidahku... Kenanglah aku didalam setiap doa kau Adi. Sebagai tanda ingatan dan kasih yang pernah hadir antara kita. Teruskanlah hidup kau dengan hati yang lapang. Carilah penggantiku. Aku percaya, kau pasti akan menemuinya. Selamat tinggal sayangku Mohd Rusdi Ramlee....
Salam Kasih Sayang Yang Berpanjangan,
Rohayu

Tanganku menggeletar dan tanpa sedar, air mataku menitis laju menuruni pipi. Surat dari Ayu kugenggam erat. Sedarlah aku mengapa dia sering menjauhi diri akhir-akhir ini. Rasa bersalah mencengkam hatiku. Memikirkan perkara yang bukan-bukan tentang Ayu. Aku menangis semahu-mahunya. Pintu bilikku diketuk perlahan. Terpacul wajah abah dibalik pintu. Segera aku dirapatinya. Bahuku disapanya lembut. Surat didalam genggaman tanganku diambilnya. Kandungan surat itu dibacanya perlahan-lahan. Seketika kemudian, belakang badanku diusapnya dengan kasih sayang.

Sabarlah Adi, ini semua dah suratan dari Allah” Suara abah begitu lembut menyerbu pendengaranku.

Pakcik Sham kau telefon abah tadi, katanya Ayu dah kembali ke Rahmatullah... Abah ingat nak bagitahu kau pagi nanti”... Kata-kata abah putus disitu. Seakan-akan begitu berat untuknya menutur kata-kata tersebut.

Lepas solat subuh, kita sedekahkan Yassin untuk arwah dan selepas itu kita terus ziarah jenazah di kampungnya”... Sambung abah sebelum berlalu.

Kisah itu telah berlalu hampir empat tahun. Kisah impian hati yang tiada kesampaian. Kenangan yang meniti masa tetap setia menemani memoriku. Entah sampai bila harus ku kunci perasaan daripada jatuh hati pada gadis lain. Sedangkan didalam benak dan fikiranku, hanya ada wajah Ayu. Adakah aku yang tak mampu menerima hakikat? Atau pengalaman menaburkan kengerian untuk aku jatuh cinta lagi? Dalam kulalui hari-hari yang mendatang, kupanjatkan doa ke hadrat Tuhan... Hadirkanlah kedalam hidupku, gadis yang memberikan aku ketenangan bila bersamanya. Yang menyenangkan pandangan dan menjadi penyejuk mata tatkala keresahan. Namun entah bila akan bersua, gadis impian, lukisan perasaan....