Wednesday, February 29, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

Di Jalan Dakwah Aku Menikah


 Atribut yang diberikan Islam kepada kita, salah satunya adalah dai ilallah. Kita dituntut untuk merealisasikan dakwah dalam seluruh waktu kehidupan kita. Setiap langkah kita sesungguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada masyarakat. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama kali, sebelum mengajak kepada yang lainnya.
Pernikahan akan bersifat dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya? mari saya beri contoh berikut. diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai usia 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah usia 25 tahun. Mereka semua ini siap menikah, siap menjalankan fungsinya dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga.


Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Usia anda 25 tahun. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda?

Ternyata anda memilih si A, karena ia memiliki kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, Pandai, dan usia masih muda, 20 tahun atau bahkan kurang dari itu. Apakah pilihan anda itu salah? Demi Allah, pilihan anda ini tidak salah! anda telah memilih calon isteri dengan benar karena berdasarkan kriteria kebaikan agama, dan memenuhi sunnah kenabian. Bukankah Rasulullah bertanya kepada Jabir ra :

“Mengapa tidak menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dan inilah jawaban dakwah seorang Jabir ra,

“Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.” kata Jabir “benar katamu” jawab Nabi saw.

Jabir tidak hanya berfikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan menikahi gadis perawan.

Nah, apabila semua laki-laki muslim berpikiran dan menentukan calon isterinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun lebih muda dari dirinya, maka siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang usianya diatas 25 tahun, atau usia diatas 30 tahun atau bahkan diatas usia 35 tahun ?

Siapakah yang akan datang melamar para wanita muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran umum? mereka, wanita tadi adalah para muslimah yang melaksanakan ketaatan, mereka adalah wanita shalihah, menjaga kehormatan diri, bahkan mereka aktif terlibat dalam kegiatan dakwah dan sosial. Menurut anda, siapakah yang harus menikahi mereka?

Ah, mengapa pertanyaannya “harus” ? Dan mengapa pertanyaan ini hanya dibebankan kepada seseorang ? kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas ini. Jodoh ditangan Allah, kita tidak memiliki hak menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agungNya. Bukan, bukan dalam konteks itu saya berbicara. Kita memang bisa melupakan mereka, dan tidak peduli dengan orang lain, tapi bukankah Islam tidak menghendaki kita berperilaku demikian?

Kendatipun nabi saw menganjurkan Jabir agar beristeri gadis, kita juga mengetahui bahwa hampir seluruh isteri Rasulullah adalah janda.

Kendatipun nabi saw. menyatakan agar Jabir beristeri gadis, pada kenyataannya Jabir telah menikahi janda.

Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap laki-laki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Mahar keislaman Abu Thalhah menyebabkan Ummu Sulaim menerima pinangannya. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa maslahat bagi dakwah.

Sebagaimana pula pikiran yang terbersit di benak Sa’ad bin Rabi saat ia menerima saudaranya seiman, Abdurahman bin Auf. “Saya memiliki dua isteri sedangkan engkau tidak memiliki isteri. Pilihlah seorang diantara mereka yang engkau suka, sebutkan mana yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nikahi. Kalau iddahnya sudah selesai maka nikahilah dia” (riwayat Bukhari)

Ia tidak memiliki maksud apapun kecuali memikirkan kondisi saudaranya seiman yang belum memiliki istri. Keinginan berbuat baiknya itulah yang sampai memunculkan ide aneh tersebut. Akan tetapi sebagaimana kita ketahui, Abdurrahman bin Auf menolak tawaran itu, dan ia sebagai orang baru di Madinah hanya ingin ditunjukkan jalan ke pasar.

Ini hanya satu contoh saja, bahwa dalam konteks pernikahan, hendaknya dikaitkan dengan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis harapan anda bernilai 100 poin, tidakkah anda bersedia menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? ketika pilihan itu membawa maslahat bagi dakwah, mengapa tidak ditempuh? Jika gadis harapan anda berusia 20 tahun, tidakkan anda bersedia sedikit memberikan toleransi dengan masalahat kepada wanita yang lebih mendesak untuk segera menikah disebabkan desakan usia? Jika anda adalah wanita muda usia, dan ditanya ? dalam konteks pernikahan ? oleh seorang lelaki yang sesuai kriteria harapan anda, mampukah anda mengatakan kepada dia, “saya memang telah siap menikah, akan tetapi si B sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”.

Atau kita telah sepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena bukanlah tanggung jawab kita ? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan keidakberuntungan adalah soal takdir yang tidak berada di tangan kita. Masya Allah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk mengabsahkan pikiran individualistik kita. Akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian berikut:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh hingga tidak bisa tidur dan panas” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Bisa jadi kebahagiaan pernikahan kita telah menyakitkan dan mengiris-ngiris hati beberapa orang lain. Setiap saat mereka mendapatkan undangan pernikahan, harus membaca, dan menghadiri dengan perasaan yang sedih, karena jodoh tak kunjung datang, sementara usia terus bertambah, dan kepercayaan diri semakin berkurang.

Disinilah perlunya kita berfikir tentang kemaslahatan dakwah dalam proses pernikahan muslim.
Sumber: Di Jalan Dakwah Aku Menikah

Friday, February 17, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

Sedikit Renungan dicelah kesibukan kita setiap hari


Sedikit Renungan dicelah kesibukan kita setiap hari Dalam suatu pertemuan iblis, syaitan   dan jin, dikatakan: "Kita tidak dapat melarang kaum muslim ke Masjid", "Kita tidak dapat melarang mereka membaca Al-Qur'an dan mencari kebenaran", "Bahkan kita tidak dapat melarang mereka mendekatkan diri dengan Tuhan mereka Allah dan Pembawa risalahNya Muhammad", "Pada saat mereka melakukan hubungan dengan Allah, maka kekuatan kita akan lumpuh."
"Oleh sebab itu, biarkanlah mereka pergi ke Masjid; biarkan mereka tetap melakukan kesukaan mereka, TETAPI CURI WAKTU MEREKA, sehingga Mereka tidak lagi punya waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah".


"Inilah yang akan kita lakukan," kata iblis. "Alihkan perhatian mereka dari usaha meningkatkan kedekatannya kepada Allah dan awasi terus kegiatannya sepanjang hari!". "Bagaimana kami melakukannya?" tanya para hadirin yaitu iblis, syaitan, dan jin. Sibukkan mereka dengan hal-hal yang tidak penting dalam kehidupan mereka, dan ciptakan tipudaya untuk menyibukkan fikiran mereka,"

Jawab sang iblis "Rayu mereka agar suka BELANJA, BELANJA DAN BELANJA SERTA BERHUTANG, BERHUTANG DAN BERHUTANG".
"Pujuk para isteri untuk bekerja di luar rumah sepanjang hari dan para suami bekerja 6 sampai 7 hari dalam seminggu, 10 - 12 jam sehari, sehingga mereka merasa bahawa hidup ini sangat kosong." "Jangan biarkan mereka menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka."
"Jika keluarga mereka mulai tidak harmoni, maka mereka akan merasa bahwa rumah bukanlah tempat mereka melepaskan lelah bila pulang dari bekerja". "Dorong terus cara berfikir seperti itu sehingga mereka tidak merasa adanya ketenangan di rumah."
"Hasut mereka untuk membunyikan radio atau kaset selama mereka berkenderaan". "Dorong mereka untuk menonton TV, VCD,DVD, CD dan PC di rumah. Sepanjang hari. Bunyikan muzik terus menerus di semua restoran maupun pusat membeli-belah di dunia ini."


"Hal ini akan mempengaruhi fikiran mereka dan merosak hubungan mereka dengan Allah dan RasulNya"

"Penuhi meja-meja rumah mereka dengan majalah-majalah dan tabloid". "Sajikan mereka dengan berbagai berita dan gosip selama 24 jam sehari".
"Serang mereka dengan berbagai iklan-iklan di jalanan". "Banjiri kotak surat mereka dengan informasi tak berguna, katalog-katalog, undian-undian, tawaran-tawaran dari berbagai macam iklan.
"Muatkan gambaran wanita yang cantik itu adalah yang berbadan langsing dan berkulit mulus di majalah dan TV, untuk menggoda para suami hingga mereka terfikir bahwa PENAMPILAN itu menjadi unsur terpenting, sehingga membuat para suami tidak tertarik lagi pada isteri-isteri mereka"
"Buatlah para isteri menjadi sangat letih pada malam hari, buatlah mereka sering sakit kepala".
"Jika para isteri tidak memberikan cinta yang diinginkan sang suami, maka akan mulai mencari hiburan di luar". "Hal inilah yang akan mempercepatkan retaknya sesebuah keluarga"
"Terbitkan buku-buku cerita untuk mengalihkan kesempatan mereka untuk mengajarkan anak-anak mereka akan makna dan kepentingan bersolat."
"Sibukkan mereka sehingga tidak lagi punya waktu untuk mengkaji bagaimana Allah menciptakan alam semesta. Arahkan mereka ke tempat-tempat hiburan, fitness, konsert2, panggung2 wayang dan pusat2 yang melekakan"
"Buatlah mereka menjadi SIBUK, SIBUK DAN SIBUK." "Perhatikan, jika mereka jumpa dengan orang soleh, bisikkan gosip-gosip dan percakapan tidak berfaedah, sehingga percakapan mereka tidak mendatangkan apa-apa pahala sebaliknya berbuat dosa semata-mata.
"Isi kehidupan mereka dengan keindahan-keindahan semua yang akan membuat mereka tidak punya waktu untuk mengkaji kebesaran Allah." "Dan Dengan segera mereka akan merasa bahwa rezeki, kebaikan/kesihatan keluarga adalah merupakan hasil usahanya yang kuat (bukan atas izin Allah)."

PASTI BERHASIL, PASTI BERHASIL." "RENCANA YANG BAGUS
." Iblis, syaitan dan jin kemudian pergi dengan penuh semangat melakukan tugas MEMBUAT MUSLIMS MENJADI LEBIH SIBUK, LEBIH KELAM KABUT, DAN SENTIASA HURA-HURA". "Dan hanya ada sedikit waktu saja untuk beribadat kepada Allah maha Pencipta."


"Tidak lagi punya waktu untuk bersilaturahmi dan saling mengingatkan akan Allah dan RasulNya". Sekarang pertanyaan saya adalah, "APAKAH RENCANA IBLIS INI AKAN BERHASIL???"



"ANDALAH YANG MENENTUKAN..!!!"

Kejadian Bunian,Jin dan Iblis.


 Kalau manusia mengambil masa sembilan bulan 10 hari untuk mengandung dan melahirkan anak ,Jin pula apabila disentuh alat kelamin jin lelaki dan jin perempuan maka jin perempuan itu akan terus mengandung dan melahirkan anak yang terus mukallaf.maka ia berterusan hingga ke hari kiamat.

Iblis pula apabila menyentuh paha kanan dan paha kiri pasangannya akan mengeluarkan 33 biji telor. Dalam setiap biji telur itu ada 33 pasang benih.Tiap-tipa pasang benih apabila menyentuh paha kanan dengan paha kiri pasangannya akan mengeluarkan benih seperti yang terdahulu.Maka begitulah caranya pembiakan jin dan iblis hingga ke hari kiamat.

Bunian atau orang gahib adalah campuran lelaki atau perempuan jin dengan lelaki atau perempuan manusia. Anak yang terhasil dari percampuran ini dinamakan bunian. Perangai dan tingkah laku dalam beberapa perkara perkara mengikut manusia dan sebahagiannya lagi mengikut jin.

Jika asal usul manusia Nabi Adam ,asal usul jin pula adalah dari datuk mereka "Jaan" yang sangat beriman dan melahirkan keturunan yang beriman juga. Selepas itu barulah terdapat keturunan Jaan yang kufur.


Asal Kejadian JIN

“Maarij” bermaksud nyalaan api yang sangat kuat dan sangat panas bahangnya atau "Al-Lahab" iaitu jilatan api yang bercampur antara satu sama lain merah,kuning,hitam dan biru.Sesetengah ulama mengatakan “Al Maarij” ialah api yang sangat terang memiliki suhu yang amat tinggi hingga bercampur antara merah,kuning,hitam dan biru.

Sesetengah pendapat lain mengatakan “Al Maarij” api yang bercampur warnanya dan sama makna dengan "As Samuun"  iaitu api yang tidak berasap dan sangat tinggi suhu panasnya.Angin Samuun yang sangat sebati dengan “Al Maarij” itulah Allah SWT jadikan Jaan.

Menurut hadis yang diriwayatkan Ibnu Masaud,angin Samuun yang dijadikan Jaan itu hanyalah satu bahagian daripada 70 bahagian angin Samuun yang sangat panas.

Daripada api yang sangat panas itu Allah jadikan Jin,iaitu dari sel atau atom atau daripada nukleus-nukleus api.Kemudian Allah masukkan roh atau nyawa kepadanya,maka jadilah ia seperti yang dikehendaki Allah.Jin juga diberi kelebihan bagi menzahirkan rupa seperti mana yang dikehendaki kecuali rupa Rasullah SAW megikut tahap dan kemampuannya.

Jin juga diperintahkan Allah supaya mengikut syariat Islam.Setelah ditiupkan roh,rupa jin yang sebenarnya hanya diketahui Allah dan Rasulnya.Menurut sesetengah ulama,rupa,tabiat dan kelakuan jin hampir 90% menyamai manusia, namun ada juga yang mengatakan sebaik-baik jin  itu adalah sama seperti sejahat-jahat manusia.

Asal campuran kejadian manusia ialah jisim “Kathif” iaitu tanah dan air,Jisim Syafaf campuran api dan angin dan Nurani iaitu akal.roh,nafsu dan hati yang dinamakan "Latifur Rabbaniah" sesuai dengan kejadian sebahagian sebaik-baik kejadian dan “khalifah” di muka bumi.Manakala kejadian Jin pula dari Jisim Syafaf iaitu campuran api dan angin dan nurani iaitu roh,akal,nafsu dan hati.
Itulah sebagai perkongsian bersama dan yang lebih mengetahui adalah Allah..wassalam.

Thursday, February 16, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

Renungan Bersama Kisah Jurumandi Mayat (Kisah Benar)

Pengalaman seorang Jurumandi Mayat Daerah Gombak, Selangor. Kisah
benar ini diceritakan oleh seorang Ustaz. Ia berlaku dikawasan
daerah Gombak di mana jurumandi memandikan jenazah yang kaya harta orangnya dan
berpengaruh.
Begini ceritanya :-                                                                      
Saya telah terlibat dalam pengurusan jenazah lebih daripada 20 tahun.
Pelbagai pengalaman telah saya lalui kerana dalam tempoh itu bermacam-macam jenis mayat yang telah saya uruskan. Ada yang meninggal dunia
akibat.......kemalangan, sakit tua, sakit jantung,bunuh diri dan sebagainya.

Bagaimanapun, pengalaman menguruskan satu jenazah di sebuah tempat di sempadan Selangor dan Wilayah Persekutuan beberapa tahun yang lalu,
telah  mendedahkan saya kepada satu kes yang cukup istimewa sepanjang                  
pengalaman saya menguruskan jenazah. Inilah kali pertama saya bertemu             
dengan satu jenazah yang cukup aneh,menyedihkan, menakutkan dan sekali
gus memberikan banyak iktibar.                                                        
                                                                                   
Nama tempat dan nama orang yang meninggal itu tidaklah dapat saya
nyatakan di sini. Ia terjadi secara kebetulan ketika saya diminta oleh anak
Allahyarham  menguruskan jenazah bapanya. Saya terus pergi ke rumahnya. Tapi bila
saya hampir  sampai ke rumah Allahyarham, saya bau jenazah itu                                 
sangat busuk. Baunya cukup pelik dan busuk. Saya telah menguruskan
banyak jenazah tetapi tidak pernah saya bertemu dengan mayat yang sebusuk ini. Bila
saya tengok wajah Allahyarham, sekali lagi hati saya tersentuh. Saya                          
tengok wajahnya seperti sedang dirundung oleh bermacam-macam
perasaan...takut,  cemas, kesal dan bermacam-macam lagi. Wajahnya seperti tidak mendapat nur daripada Allah SWT.
Kemudian saya pun ambil kain kafan  yang dibeli oleh anak Allahyarham dan saya potong-potongkan. Secara kebetulan pula, di situ ada dua orang yang mengikuti kursus pengurusan jenazah yang pernah saya jalankan. Saya ajak mereka membantu saya dan mereka bersetuju. Tetapi semasa memandikan mayat itu, peristiwa                   
pertama berlaku. Untuk makluman pembaca, apabila memandikan jenazah,              
badan mayat itu perlu dibangunkan sedikit dan perutnya hendaklah
diurut urut untuk membolehkan najis keluar. Maka saya pun urut urutkan perut             
Allahyarham. Tapi apa yang berlaku pada hari itu amatlah mengejutkan.             
Allah itu Maha Berkuasa kerana pada saat tersebut, najis tidak keluar             
daripada dubur mayat tadi tetapi melalui mulutnya. Allahhuakbar......
Lalu saya ubah sedikit teknik dan posisi mayat itu               
dan saya urut-urutkan lagi perutnya. Tapi najis itu tetap keluar dari             
mulutnya. Hati saya berdebar-debar. Apa yang sedang berlaku di depan
mata saya ini? Telah dua kali mulut mayat ini memuntahkan najis. Saya harap ia
tidak akan berulang lagi kerana saya mahu mengurut perutnya bagi kali yang              
terakhir. Tiba-tiba ketentuan Allah berlaku. Bila saya urut perutnya,             
keluarlah daripada mulut mayat itu najis bersama beberapa ekor ulat
yang masih hidup. Ulat itu adalah seperti ulat najis. Warnanya putih. Dari
mana datangnya ulat itu, jangan tanya saya. Allahyarham meninggal dunia
akibat diserang sakit jantung dan waktu kematiannya dengan waktu saya                    
menguruskan mayatnya hanya lima jam setengah sahaja jaraknya. Aneh,              
bagaimana dalam tempoh yang sebegitu singkat mayatnya boleh menjadi               
sedemikian rupa?
Saya lihat wajah anak Allahyarham. Mereka seperti terkejut.      
Mungkin malu, terperanjat dan aib dengan apa yang berlaku pada bapa               
mereka. Saya tengok dua orang pembantu tadi, mereka juga terkejut dan
panik. Lalu saya bacakan doa untuk mengelakkan badi mayat dan sapukan ke                 
muka mereka. Saya kata kepada mereka, inilah ujian Allah kepada                  
kita.                                                                            
                                                                                   
Kemudian saya minta salah seorang daripada pembantu tadi memanggil                
kesemua anak Allahyarham. Allahyarham pada dasarnya seorang yang
beruntung kerana mempunyai tujuh orang anak, dan semuanya lelaki. Seorang berada di
luar negeri dan enam lagi berada di sini. Bila semua anak Allahyarham masuk, saya
menasihati mereka. Saya mengingatkan mereka bahawa tanggungjawab saya hanyalah membantu menguruskan jenazah bapa mereka,
bukan menguruskan sepenuhnya tanggungjawab tersebut. Sepatutnya sebagai
anak, merekalah yang lebih afdal menguruskan jenazah bapa mereka itu, bukannya tok
imam, tok bilal, tok siak.
Saya kata, mungkin satu masa dahulu ibu mereka sibuk maka        
Allahyarham juga pernah memandikan mereka. Itulah jasa dan pengorbanan
seorang bapa. Tetapi saya kesal kerana dalam saat-saat begini anak-anak Allahyarham
tidak langsung hendak membalas jasa bapa mereka itu biarpun di saat akhir jasadnya di muka bumi ini.                                    
                                                                                   
Saya kemudiannya meminta izin serta bantuan mereka untuk menonggengkan            
mayat itu. Takdir Allah, apabila ditonggengkan sahaja mayat tersebut,
tiba-tiba keluarlah ulat-ulat yang masih hidup. Hampir sebesen banyaknya. Besen
itu boleh dianggarkan besar sedikit daripada penutup bilah kipas meja.                      
Subhanallah....suasana menjadi semakin panik. Saya terus bertenang dan
berharap tidak berlaku lagi kejadian-kejadian yang lebih ganjil. Selepas itu
saya mandikan semula mayat tersebut dan saya ambilkan wuduk. Saya minta anak-anaknya mengambil kain kafan. Saya bawa mayat tersebut ke dalam biliknya dan tidak
diizinkan seorang pun melihat upacara itu kecuali waris yang terdekat, sebab saya takut perkara-perkara yang lebih aib akan berlaku.
Takdir Allah jua yang menentukan. Apabila mayat ini diletakkan di atas kain kafan, saya dapati kain kafan itu  cukup-cukup hujung kepala dan kakinya, tidak ada lebih. Maka
saya tak boleh nak ikat kepala dan kakinya. Tidak keterlaluan kalau saya katakan bahawa kain kafan itu seperti tidak mahu  menerima mayat tadi. Tidak apalah, mungkin saya yang silap semasa memotongnya. Lalu saya ambil baki kain, saya potongkan dan tampungkan di tempat-tempat yang kurang. Memang kain kafan jenazah itu jadi tidak
berapa elok, tetapi apa nak buat itu sahaja yang boleh saya lakukan. Pada
masa yang sama saya berdoa kepada Allah, Ya Allah, jangan Kau hinakan
jenazah ini ya Allah, cukuplah sekadar peringatan kepada hambamu ini. Selepas itu
saya berikan taklimat tentang sembahyang jenazah. Tiga kali taklimat diberikan.
Yang hadir hanya 13 orang saja.  
                                                           
                                                                                   
Selepas menyembahyangkan jenazah tadi, satu lagi masalah timbul.
Jenazah itu tidak dapat dihantarkan ke tanah perkuburan kerana tidak ada kereta jenazah. Saya hubungi JAWI, JAIS, Pusat Islam, DBKL, Polis dan sebagainya, tetapi
yang peliknya, mereka juga tidak mempunyai kereta jenazah kerana kereta yang ada
sedang digunakan. Dalam keadaan itu, seorang hamba Allah muncul menawarkan
bantuan.Lelaki itu meminta saya menunggu sebentar untuk membolehkan dia mengeluarkan van dari garaj rumahnya. Kemudian muncullah sebuah van. Tapi ketika dia sedang mencari tempat untuk meletakkan vannya itu di kawasan rumah Allahyarham,
tiba-tiba isterinya keluar. Dengan suara yang tegas dia berkata di khalayak
ramai, Abang, saya tak benarkan kereta saya ini digunakan untuk mengangkat jenazah
itu sebab semasa hayatnya dia tidak pernah benarkan kita naik keretanya.

Renungkanlah,     
kalau tidak ada apa-apa sebab, tidak mungkin seorang wanita yang lembut hatinya akan berkata demikian. Jadi saya suruh tuan punya van itu membawa vannya balik. Selepas itu muncul pula seorang lelaki menawarkan bantuannya. Lelaki itu mendakwa dia adalah anak murid saya. Dia meminta izin daripada saya dalam 10-15 minit untuk membersihkan keretanya itu. Dalam jangka waktu yang ditetapkan itu, muncul kereta tersebut. Tetapi dalam keadaan yang basah kuyup. Kereta yang dimaksudkan itu sebenarnya adalah sebuah lori, dan lori itu digunakan oleh lelaki tadi untuk menjual ayam.
Renungkanlah,
pernahkah kita melihat satu jenazah dibawa ke kubur dengan lori ayam? Dalam
perjalanan menuju ke kawasan perkuburan, saya berpesan kepada dua pembantu tadi supaya ahli masyarakat tidak payah membantu kami menguburkan jenazah tadi. Saya suruh mereka pergi kubur saudara mara dan sahabat mereka, itu lebih baik. Saya tidak mahu mereka melihat apa-apa lagi peristiwa ganjil. Rupanya apa yang saya takutkan itu
berlaku sekali lagi - takdir Allah yang terakhir amat memilukan. Bila sampai sahaja
jenazah tersebut ke kuburnya, saya perintahkan tiga orang anaknya turun ke
dalam liang lahad dan tiga lagi turunkan jenazah. Takdir Allah, apabila jasad
jenazah itu mencecah sahaja ke bumi, tiba tiba air hitam yang busuk baunya keluar
dari celah-celah bumi yang pada asalnya kering. Hari itu tidak hujan, tetapi dari mana 
datangnya air itu? Sukar untuk saya menjawabnya.
Lalu saya arahkan anak Allahyarham supaya sendalkan jenazah bapa mereka dengan kemas. Saya takut nanti ia akan terlangkup.... naâuzubillah. Kalau mayat terlangkup, tidak ada harapan untuk mendapat syafaat Nabi saw. Papan keranda diturunkan dan kami segera kambus kubur tersebut. Selepas itu kami injak-injakkan tanah supaya mampat dan bila hujan ia tidak mendap. Tapi sungguh menyayukan, saya perhatikan tanah yang
diinjak itu menjadi becak. Saya tahu, jenazah berkenaan ditenggelamkan oleh air
hitam yang busuk itu. Melihatkan keadaan tersebut, saya arahkan anak-anak
Allahyarham supaya berhenti menginjakkan tanah itu. Tinggalkan dalam suku meter, timbus dan bataskan. Ertinya kubur itu tidak dikambus hingga ke permukaan lubangnya, tetapi ia seperti kubur berlubang. Tidak cukup dengan itu, apabila saya hendak membacakan talkin, saya tengok tanah yang diinjak itu ada kesan serapan air. Masya-Allah, dalam sejarah hidup saya, inilah julung-julung kalinya peristiwa seperti itu terjadi.
Melihatkan keadaan itu, saya mengambil keputusan untuk menyelesaikan pengebumian secepat mungkin. Sejak sekian lama terlibat dalam pengurusan jenazah, inilah mayat yang saya cuma hanya bacakan tahlil dan doa yang paling ringkas. Setelah itu saya pulang ke rumah Allahyarham dan himpunkan keluarganya. Saya bertanya kepada isteri Allahyarham, apakah yang telah dilakukan oleh Allahyarham
semasa hayatnya. Adakah dia pernah menzalimi orang alim, mendapat harta
secara merampas, menipu rasuah, memakan harta masjid dan anak yatim? Isteri allahyarham tidak dapat memberikan jawapan. Untuk pengetahuan umum, anak-anak Allahyarham merupakan orang-orang yang berpendidikan tinggi sehingga ada seorang yang beristerikan orang Amerika, seorang dapat isteri orang Australia dan seorang lagi isterinya orang Jepun. Saya bertambah sedih apabila dua orang yang membantu saya menguruskan jenazah tadi menelefon saya. Mereka kata mereka terkilan pada sikap keluarga Allahyarham kerana membantu saya menguruskan
jenazah Allahyarham kerana anak-anak Allahyarham telah menjadikan
mereka sebagai musuh. Saya bertanya, adakah mereka menceritakan kisah itu kepada
masyarakat? Mereka kata TIDAK.
Peristiwa ini akan tetap saya ingat sampai bila-bila. Kepada masyarakat, tanyalah diri kita adakah kita mahu peristiwa itu terjadi pada diri kita sendiri, ibu bapa kita, anak kita atau kaum keluarga kita? Adakah kita mahu peristiwa ini berlaku berulang-ulang kali sehingga sampai satu masa nanti di mana masyarakat menganggap peristiwa ini sebagai perkara biasa? Sedangkan ini adalah petanda yang Allah turunkan agar kita mengambil ikhtibar di atas apa yang telah kita kerjakan. Allah lebih Maha Mengetahui dan Dia memberikan peringatan pada hambanya yang mahu berfikir.




Thursday, February 9, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

❤ܓPelangi Jingga❤ܓ

Siti Syazwani. Happy Birthday! Semoga kamu akan sentiasa dirahmati Nya… All the best in everything you do… Jaga diri & iman baik-baik yea~… -Amin, UK-”
Aku mencapai telefon tanganku dan membelek-belek SMS ucapan hari lahir yang diterima minggu lepas. Cukup ringkas. Namun, aku masih tertanya-tanya mengapa Amin hanya mengirimkan SMS sahaja kali ini? Jika tidak, tahun-tahun sebelum ini pasti sudah ada kad besar dan bermuzik akan tiba beberapa hari sebelum hari lahir ku. Dah la pakai nombor orang lain, siap tulis nama penuh aku pula tu. Tak pernah pula dia tulis macam ni… Ish, hati mula ragu-ragu. Menyangka sesuatu yang tak baik sedang berlaku.  Adakah dia sudah ….? Argh, tak mungkinlah! Dia dah kata takkan ….
Aku teringat ketika dia pulang bercuti pada musim summer tahun lepas. Namun, sebelum itu aku sudah rasa banyak perubahan berlaku pada dirinya. Dia telah mula banyak memberi nasihat-nasihat baik ketika kami berhubung samada melalui telefon, SMS, email, YM dan juga facebook. Dan ketika itu, aku mendapat cuti seminggu dan telah bercadang untuk turun ke KL dengan kakak melawat saudara-mara, dan sambil-sambil itu bolehlah juga berjumpa dengan si Amin. Setahun sekali tak salah rasanya. Melepas rindu la sedikit. ‘Boring’ juga kalau asyik berhubung melalui telefon saja. Lagipun Kuantan-Kuala Lumpur sekarang boleh travel dalam 3 jam 1/2 dah. Ulang-alik setiap hari pun boleh.
Di Kuala Lumpur, aku telah menghubunginya dan cuba mengajak untuk berjumpa. Dia menolak ajakan aku untuk keluar berjalan-jalan daripada pagi sampai ke petang. Dia hanya boleh berjumpa dengan ku seketika sahaja pada petang hari. Walaupun dia beralasan sibuk, tapi aku tahu dia taklah sesibuk mana. Nak tak nak, aku terpaksalah menerima sahaja cadangannya. Asal boleh berjumpa, ia sudah cukup bagi aku. Dan petang itu kami taklah ke mana-mana sangat. Bersiar-siar sahaja dengan kereta kesukaannya itu.
Selepas solatAsar di Masjid Wilayah, Amin membawa aku ke sebuah restoran dan kami makan ‘early dinner’ di situ. Kemudian, satu detik yang agak ‘mengingatkan’ bagi aku adalah sewaktu kami dalam perjalanan menghantar pulang aku ke rumah saudaraku… Dia ada bertanya “Apa beza kita dengan diaorang kat situ tu ye?” Amin menunjuk-nunjuk ke arah beberapa pasang ‘couple’ yang sedang lepak berdua-duan di tempat-tempat duduk sepanjang sebuah taman. Aku tergamam sekejap. Huh. Agak menduga, tapi ’simple’ saja. “Ala, kita ni baik sikit. Tak ada pegang-pegang. Tutup aurat elok. Sampai waktu solat, kita solat. Erm… Islamik sikit la pendek cerita!.” “Hmm..” Amin hanya mengangguk-angguk. “Dalam Islam ada ke macam ni?” Amin menduga lagi. Erk… Semakin terkesima aku dibuatnya. Kali ini aku terus diam terpaku. Aku tahu dia lebih banyak tahu selok-belok masalah benda-benda macam ini. Kalau aku jawab lagi, mesti dia ‘counter’ lagi. Huh. Diam sahaja lah! “Erh, abaikan je lah. Saja je saya tanya…” Amin cuba menyedapkan hati.

Tidak lama selepas Amin terbang pulang semula ke UK untuk menyambung sesi pelajarannya yang baru, dia ada menghantar satu email kepada ku untuk menerangkan kedudukan dan tujuan dia bertanya akan hal itu. Aku sudah mula faham sedikit-sebanyak yang aku perlu mengawal hubungan yang masih tidak ‘rasmi’ ini. Dan sejak daripada itu dia tidak pernah langsung menelefon aku. SMS pula hanya bertanyakan tentang pelajaran sahaja. Itu pun boleh dibilang dengan jari. Namun, aku bersyukur dan gembira kerana dialah yang membuat aku berubah untuk jadi lebih baik dan lebih faham Islam. Jika dulu pakaian aku agak ketat dan singkat, kini sudah banyak yang labuh dan longgar aku beli. Tudungku pun pernah ditegurnya agar melabuhkan ke bawah dada. Dialah yang memperkenalkan padaku apa itu usrah dan dakwah. Dia juga ada berpesan – ‘Jaga hubungan dengan Allah tu lagi penting. Insya Allah, kemudian Dia akan jaga hubungan kita.’
Jadi, apakah yang akan berlaku selepas ini? Hatiku masih tak tenteram memikirkan SMS ucapan hari lahir itu. Macam-macam sangkaan buruk bermain-main dalam hati yang mula busuk ini. Aku masih setia menanti kepulangannya. Dan aku yakin dia juga setia pada aku. Aku tak pernah memikirkan lelaki-lelaki lain selain dia. Dan aku yakin dia juga tak pernah nak menggatal dengan perempuan-perempuan lain. Dia taklah seperti kebanyakan lelaki yang ‘playboy’ pada masa kini.Ops! Mungkin agak kasar untuk berkata sedemikian.‘Tuuut. Tuuut…’ Nada dering SMS berbunyi. Nombor Amin yang terpapar. “Esok free tak? Boleh kita chatting?” “Boleh… Saya free je.” jawab aku ringkas. Erm, mesti dia saja nak buat ’surprise.’ Aku dah agak dah, takkanlah dia hantar SMS saja untuk ‘wish birthday’ aku. Keyakinan aku mula bertambah. Dia masih sayang padaku. “Ok.Tq…” balasnya pula. Keesokannya, aku menanti awal dia online. ‘Tuk. Tuk. Tuk..’ Amin has signed in. Oh, tepat sungguh waktunya…

Amin: assalamualaikum wbt.
Wani: wsalam…
Amin: apa khabar? sihat? iman baik?
Wani: alhamdulillah… sihat2..=) awak?
Amin: alhamdulilah… baik2 juga… iman selalu turun naik sejak kebelakangan ni… tp takpe, ok je semua
Wani: awak tak balik ke tahun ni? btw, thanks for the bday wish last week…
Amin: welcome… tak balik. byk kerja sket tahun ni… lagi pun saya nak try bekerja… cari duit…
Wani: wah, rajinnya… baguslah! Amin: hurm…
Amin: study macam mana?
Wani: ok je… new sem ni berat sket.. Jadual pack.
Amin: oic… Amin: takpe, study rajin2 ye..
Amin: hurm, dah lama nak tanya ni sebenarnya…
Amin: hurm…
Wani: apa dia? tanya la… sila2..
Amin: 1st of all sorry dulu ye… hurm, apa pendapat awak tentang kita sekarang?
Wani: erh… macam awak kata dalam email tu dulu yang kita ni kan ‘kawan’… tak lebih daripada tu… tp, special sket… tiada couple-couple mcm org lain… declare pun tak kan?
Wani: so, statusnya kawan je la…
Amin: hurm… Wani: erh, tak betul ke? Amin: hurm.. ni opinion je la – antara lelaki dan perempuan yg bukan mahram, tiada perhubungan yang lebih akrab melainkan hubungan suami isteri shj… yg lain2.. atas alasan aper skali pun ia tak patut diterima.. Aku tergamam seketika. Tertampar keras juga rasanya…
Wani: jadi…
Amin: saya rasa kita harus stop… stop untuk berpisah…
Amin: sbb……
Amin: sbb saya sedar yg semua ini adalah salah dan juga keliru…
Amin: benda ni akan buatkan hati ternodai… zina hati akan banyak berlaku…
Amin: walaupun kita jauh, tak call, tak jumpa dll, tapi hati tetap ber’zina’…
Amin: huh…
Amin: saya bercakap itu dan ini pada org ramai… tapi, dalam masa yang sama saya meyelindungi sesuatu yang tak sepatutnya saya buat…
Amin: kononnya Islamik…
Amin: saya rasa cara ni tak betul… kita sbnrnya yang dah menyarungkan benda yg tak baik ni dgn Islam… then, org nampak Islamik…
Amin: saya rasa takde beza pun kita dgn org lain yg duk ber’couple2’ nieh..
Amin: hurm…..
Amin: jadi, saya rasa kita harus berpisah…
Amin: demi menjaga diri…& sama-sama untuk kembali harungi hidup dalam redha Ilahi…
Amin: sorry… sorry byk2 untuk segala apa yang telah kita buat…
Amin: dan sorry juga sbb telah membawa awak ke jalan yang lupa pada-Nya…
Amin: andai ada jodoh, moga dipertemukan…
Astaghfirullahalazim… Aku beristighfar panjang. Ku kesat peluh di dahi… Air mata jahiliyah ku deras menitis membasahi meja. Sedikit terpercik pada keyboard laptop. Aku tak sangka perkara seperti ini akan terjadi sepantas ini. Ringkas, lembut, berhikmah serta points-nya yang jelas membuat aku tak dapat membantah dan berkata-kata. Sedih, pilu, kecewa, dan sesekali timbul rasa kesal pun ada. Tapi, semua itu tak bermakna lagi…

Aku tak mampu lagi untuk menyambung perbualan tersebut. Ku pasrah dan terima sahaja keputusan yang dibuat oleh Amin itu. Di saat ini, hanya Allah yang bisa mendengar bisikan hati rapuh ini. Dialah juga tempat ku pohon keampunan atas segala kekeliruan yang telah aku timbulkan. Rupanya selama ini aku telah tertipu dengan bisikan musuh, mengikut jalan taghut, mencampurkan halal dan haram, serta mengandunkan yang Islam dan al-hawa… Cinta hakiki hanyalah pada Allah…
Tiba-tiba aku teringat hadis halawatul iman yang pernah dibincangkan oleh naqibah aku tak lama dahulu;
Pertama sekali mestilah mencintai Allah dan RasulNya lebih daripada makhlukNya, kemudian mencintai seseorang itu hanya kerana Allah dan akhir sekali, mesti benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dicampakkan dirinya ke dalam api neraka. Dengan demikian barulah dapat merasai kemanisan iman itu. Hanya Allah sahajalah yang layak memberi hidayah kepada sesiapa yang dikhendakiNya. Moga-moga Dia kuatkan dan teguhkan hatiku menghadapi dugaan ini dan moga-moga diringankan beban yang kupikul ini. Aku terus menjawab ringkas….
Wani: thanks & sorry too… saya terima… Alhamdulillah…
Wani: moga awak bahagia dan sukses selalu di sana. doakan saya juga.
Wani: wassalam. Signed out
Aku merasakan hubungan tiga tahun yang terbina itu memang salah pada dasarnya. Bagaimana mungkin ia dapat mewujudkan sebuah keluarga yang menjunjung Islam jika asasnya terbina melalui cara al-hawa?
Ya, kami memang saling menasihati dan bertazkirah, saling mengejut Qiamulali, saling menghantar SMS ayat-ayat Quran serta hadis, tapi semua itu memang tak betul caranya… Aku sedar yang kami telah mempergunakan Islam untuk mencapai matlamat peribadi… Astaghfirullah.. Syukur pada Mu ya Allah kerana lekas mengembalikan ku pada jalan redha-Mu.
“Sayang… Cepat turun ni. Nurul dah nak sampai.” Ops! Tersedar daripada lamunan kisah 15 tahun lepas itu tatkala mendengar sahutan suamiku, Muhammad Aqil untuk bersiap menyambut tetamu istimewa kami Nurul dan Aiman. “Ya bang, Wani turun…”Alhamdulillah… Siap semuanya. Aku menutup lid laptopku dan bergegas turun ke bawah. Aku sangat bersyukur menjadi siapa diri aku sekarang ini dan aku mengharapkan belia-belia harapan negara dapat kembali kepada cara fitrah yang sebenar dalam menguruskan soal cinta.