Thursday, May 3, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

~Belajarlah Sayang~

Belajarlah sayang supaya terus BERSYUKUR walau KEKURANGAN

Belajarlah sayang supaya terus IKHLAS walau TAK RELA

Belajarlah sayang supaya terus TAAT walau BERAT

Belajarlah sayang supaya terus MEMAHAMI walau TAK SEHATI

Belajarlah sayang supaya terus SETIA walau BANYAK GODAAN

Belajarlah sayang supaya terus MEMBERI walau TAK SEBERAPA

Belajarlah sayang supaya terus MENGASIHI walau kau DISAKITI

Belajarlah sayang supaya terus TENANG walau kau sedang GELISAH

Belajarlah sayang supaya terus PERCAYA walaupun SUSAH

Percayalah sayang bahawa Allah SWT masih sanggup menolongmu itu tanda Allah sentiasa SAYANG padamu

Wednesday, May 2, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

~Misteri Umur 40 Tahun~

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam atas hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam , keluarga dan para sahabatnya.

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Ahqaf: 15)

Keistimewaan Umur 40 Tahun

Sebagian orang menyebut, umur empat puluh tahun penuh teka-teki dan penuh misteri. Sehingga terbit sebuah buku berjudul, "Misteri Umur 40 tahun" yang diterbitkan pustaka al-tibyan – Solo, diterjemahkan dari buku berbahasa Arab, Ya Ibna al-Arba'in, oleh Ali bin Sa'id bin Da'jam.

Seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun berarti akalnya sudah sampai pada tingkat kematangan berfikir serta sudah mencapai kesempurnaan kedewasaan dan budi pekerti. Sehingga secara umum, tidak akan berubah keadaan seseorang yang sudah mencapai umur 40 tahun.

Al-Tsa'labi rahimahullah berkata, "Sesungguhnya Allah menyebutkan umur 40 tahun kerana ini sebagai batasan bagi manusia dalam keberhasilan maupun keselamatannya."

Ibrahim al-Nakhai rahimahullah berkata, "Mereka berkata (yakni para salaf), bahwa jika seseorang sudah mencapai umur 40 tahun dan berada pada suatu perangai tertentu, maka ia tidak akan pernah berubah hingga datang kematiannya." (Lihat: al-Thabaqat al-Kubra: 6/277)

Allah Ta'ala telah mengangkat para nabi dan Rasul-Nya, kebanyakan, pada usia 40 tahun, seperti kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad, Nabi Musa, dan lainnya 'alaihim al-Shalatu wa al-Sallam. Meskipun ada pengecualian sebagian dari mereka.

Imam al-Syaukani rahimahullah berkata, "Para ahli tafsir berkata bahwa Allah Ta'ala tidak mengutus seorang Nabi kecuali jika telah mencapai umur 40 tahun." (Tafsir Fathul Qadir: 5/18)

Dengan demikian, usia 40 tahun memiliki kekhususan tersendiri. Pada umumnya, usia 40 tahun adalah usia yang tidak dianggap biasa, tetapi memiliki nilai lebih dan khusus.

Dihikayatkan, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi adalah seorang laki-laki yang shalih, cerdas, sabar, murah hati, berwibawa dan terhormat. Ia berkata, "manusia yang paling sempurna akal dan pikirannya adalah apabila telah mencapai usia 40 tahun. Itu adalah usia, di mana pada usia tersebut Allah Ta'ala mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan pikiran manusia akan sangat jernih pada waktu sahur." (Lihat: al-Wafyat A'yan, Ibnu Khalkan: 2/245)

Disebutkan tentang biografi al-Hafidz Jalaluddin al-Suyuthi, "Bahwa ketika mencapai umur 40 tahun ia berkonsentrasi untuk beribadah dan memutuskan diri dari hubungan dengan manusia untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, dan ia berpaling dari semua urusan dunia dan umat manusia, seakan-akan ia tidak pernah kenal seorangpun dari mereka. Dan ia terus menyusun karya-karya tulisnya. . ." (Syadzratu al-Dzahab: 8/51)


Al-Qur'an Menyebut Umur 40 Tahun

Cukuplah Al-Qur'an yang telah menyebutkan umur 40 tahun dengan tegas itu menjadi perhatian. Sehingga kita lihat, saat memasuki usia ini para ulama salaf mencapai kebaikan amal mereka dan menjadikannya sebagai hari-hari terbaik dalam hidupnya.

Allah Ta'ala berfirman,

حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri"." (QS. Al-Ahqaf: 15)

Umur 40 Tahun dan Syukur

Ayat di atas mengisyaratkan, saat sudah menginjak usia 40 tahun hendaknya seseorang mulai meningkatkan rasa syukurnya kepada Allah juga kepada orang tuanya. Ia memohon kepada-Nya, agar diberi hidayah, taufik, dibantu, dan dikuatkan agar bisa menegakkan kesyukuran ini. Karena segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah dengan kehendak dan izin-Nya, sehingga ia meminta hal itu kepada-Nya. Ini sebagaimana doa yang diajarkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu 'Anhu, "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, Janganlah engkau tinggalkan untuk membaca sesudah shalat:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِك ، وَشُكْرِك وَحُسْنِ عِبَادَتِك

"Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir, beryukur, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu." (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Nasai dengan sanad yang kuat)

Kerana sesungguhnya seorang hamba pasti sangat memerlukan kepada pertolongan Tuhannya dalam menjalankan perintah, menjauhi larangan, dan sabar atas ketetapan-ketetapan takdir-Nya. (Dinukil dari Subulus Salam, Imam al-Shan'ani)

Sebenarnya bersyukur itu sepanjang umur. Dan dikhususkan pada umur 40 tahun ini karena pada saat usia ini seseorang benar-benar harus sudah mengetahui segala nikmat Allah yang ada padanya dan pada orang tuanya, lalu ia mensyukurinya.

Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata, "Allah Ta'ala menyebutkan orang yang sudah mencapai umur 40 tahun, maka sesungguhnya telah tiba baginya untuk mengetahui nikmat Allah Ta'ala yang ada padanya dan kepada kedua orang tuanya, kemudian mensyukurinya."

Sesungguhnya hakikat syukur itu mencakup tiga komponen; hati, lisan, dan anggota badan. Hati dengan mengakui bahwa semua nikmat itu berasal dari pemberian Allah. Lisan dengan menyebut-nyebut dan menyandarkan nikmat itu kepada-Nya serta memuji-Nya. Sementara anggota badan adalah dengan menggunakan nikmat itu untuk taat kepada-Nya, yakni untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Oleh kerananya, disebutkan dalam ayat, "Dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai."

Ditekankan Bersyukur Kepada Orang Tua

Saat seseorang berumur 40 tahun, maka ia memiliki tanggungjawab di tengah keluarga dan masyarakat yang lebih besar. Anak-anak memerlukan biaya yang lebih untuk pendidikan dan lainnya. Sementara orang tuanya, pastinya sudah uzur dan sangat memerlukan bantuan dari anak-anaknya. Di sinilah sering seseorang melupakan orang tuanya kerana penumpuannya yang lebih terhadap keluarga dan anak-anaknya. Padahal seharusnya dengan bertambahnya umur semakin membuat ia sadar akan jasa-jasa orang tuanya kepada dirinya. Sehingga disebutkan dalam hadits, "Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya, salah seorang atau kedua-duanya, tapi tidak bisa masuk surga (dengan itu)." Dalam riwayat lain, "Tapi keduanya tidak bisa memasukkannya ke dalam surga." (HR. Ahmad dan lainnya)

Ayat tentang kewajiban berbuat ihsan kepada orang tua di atas diawali dengan perintah untuk mentahidkan Allah, ikhlas ibadah kepada-Nya, dan istiqamah di atasnya. Seolah menunjukkan, saat Allah perintahkan untuk mentauhidkan-Nya ada di antara hamba yang menyambut dan ada pula yang menentang. Sama juga dengan perintah berbakti kepada orang tua, ada manusia yang berbakti kepada orang tuanya dan ada pula yang malah durhaka.

Juga mengisyaratkan, agar tidak membezakan dan membentukan berbuat ihsan kepada orang tua dengan mentauhidkan Allah. Sesungguhnya berbuat ihsan kepada kedua orang tua itu bagian dari ibadah kepada Allah. Sehingga tidak boleh dalam berbuat ihsan tersebut melanggar nilai-nilai ketauhidan. Walau besar hak orang tua atas anak, tidak boleh mentaati keduanya dalam maksiat kepada Allah. Kerana tetaplah nikmat yang orang tua dapatkan itu berasal dari Allah juga.

Bentuk berbuat ihsan kepada orang tua yang diperintahkan dalam ayat tersebut mencakup segala bentuk berbuat baik seperti memenuhi nafkah orang tua, memenuhi keperluannya, mentaati perintahnya yang ma'ruf, menghidarkan dari bahaya, mengubatinya jika sakit, menghiburnya jika sedih, dan memohonkan ampun dan doa untuk kedunya, serta yang lainnya.

Jangan Lupakan Keturunan

Sesudah seorang muslim diperintah berbuat baik kepada orang yang di atasnya dan mengerjakan amal shalih untuk dirinya, janganlah ia lupa terhadap anak keturunanya. Ia juga wajib memperhatikan pendidikan dan pengarahan mereka, agar menjadi orang yang taat kepada Allah Ta'ala. Kerana mereka adalah amanat yang harus diarahkan untuk taat kepada Tuhan-Nya.

Dan sesungguhnya di antara balasan baik dari amal shalih mereka adalah diperbaiki keturunan mereka. Baiknya orang tua akan ada kesannya kepada perbaikan anak. Ini juga menjadi pelajaran, dalam melakukan pendidikan kepada anak haruslah orang tua memulai dari menshalihkan diri mereka dengan ilmu dan amal. Di samping supaya boleh menjadi teladan, baiknya anak keturunan juga menjadi balasan bagi dirinya.

Syaikh al-Sa'di berkata dalam menafsirkan ayat di atas, "Sesungguhnya baiknya orang tua dengan ilmu dan amal termasuk sebab yang besar untuk baiknya anak-anak mereka."

Selain itu, berdoa sebagai bagian dari tawakkal kepada Allah dalam usaha tidak boleh dianggap ringan. Kerana hati manusia itu berada di antara dua jari dari jemari Allah Ta'ala yang diarahkan kepada Dia kehendaki. Oleh sebab itu, kita dapatkan doa dari para Nabi dan orang-orang shalih untuk keshalihan anak-anak mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, ada seorang lelaki yang mengadukan tentang anaknya kepada Thalhah bin Musharrif Radhiyallahu 'Anhu, maka Thalhah berkata kepadanya, "Minta tolonglah dalam masalah anakmu dengan ayat,

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Ahqaf: 15)

Memperbaharui Taubat

Usia 40 tahun haruslah menjadi titik tolak dan perbaharuan taubat penyesalan seseorang atas dosa-dosa dan kufur nikmat selama hidupnya. Kerana pada usia ini benar-benar telah merasakan banyaknya nikmat dan tidak sebandingnya rasa syukur terhadapnya. Maka pengakuan dosa pasti akan mengalir dari orang yang mahu merenungkan masa lampaunya, sehingga dari itu lahir penyesalan, tumbuh istighfar dan taubat kepada Allah.

Oleh sebab itu, disebutkan dalam doa di atas,

إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Ahqaf: 15)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Dan di dalamnya terdapat petunjuk bagi orang yang sudah berusia 40 tahun agar memperbaharui taubat dan inabah kepada Allah 'Azza wa Jalla serta bertekad kuat atasnya." Dia harus terus meningkatkan amal solehnya saat usianya menginjak 40 tahun sampai ajal menjemputnya. Wallahu Ta'ala A'lam.

Monday, April 30, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

"Aku akan lenyapkan kebahagiaanmu."

Seorang  khafir  yang marah kepada seorang pemuda islam dan dengan segera mengancam pemuda  itu lalu berkata:

"Aku akan lenyapkan kebahagiaanmu."

Si pemuda islam itu menjawab penuh ketenangan,

"Kamu  tidak mampu melenyapkan kebahagiaanku sebahagaimana kamu tidak mampu memberikan kebahagiaan kepadaku."



Si khafir  tadi bertanya:

 "Mengapa aku tidak akan mampu melenyapkan kebahagiaanmu?"



Pemuda islam itu menjawab dengan penuh keyakinan:

 "Kalau seandainya kebahagiaanku terletak dalam perbelanjaan, tentu kamu mampu menghilangkannya. Dan kalau terletak dalam pakaian dan perhiasan, tentu kamu juga sanggup menahannya. Tetapi kebahagiaanku adalah sesuatu yang bukan milikmu dan tidak dapat kamu kuasai, baik kamu sendiri ataupun orang lain."



Orang khafir  tadi bertanya dengan penuh kehairanan:

"Di manakah kebahagiaanmu?"

 Pemuda islam itu menjawab dengan penuh ketenangan dan keyakinan:

 "Sesungguhnya aku memperoleh kebahagiaan dalam keimananku. Dan imanku itu dalam hatiku. Tiada seorang pun yang dapat menguasai hatiku selain Allah."

~Setulus Hati Mohd Rusdi Ramlee~

Wednesday, April 25, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

~Belajarlah Dari Alam Hakikat Keikhlasan Kerana Tuhan~

Kelapa tua. Semua orang pasti kenal kelapa tua. Tahu pula gunanya kelapa tua itu. Sangat penting dan sangat berguna kelapa tua ini dalam hidup seharian manusia. Namun begitu, kewujudannya langsung tidak dipeduli dan tidak diendahkan orang. Kelapa tua tidak pernah menjadi topic sesebuah perbincangan. Tidak pernah dikaitkan dengan apa-apa isu atau masalah. Kalaulah kelapa tua ini mempunyai emosi, tidak ramai orang yang akan dapat merasakan dan menyelami perasaannya. Itulah nasib si kelapa tua.

Kelapa tua pula tidak pernah susah hati kalau orang tidak mempedulikannya. Dia hanya tergantung di atas pokok dan terbuai-buai bila ditiup angin.


Tapi, lazimnya elok-elok kelapa tua itu tergantung di atas pokoknya sambil menikmati keindahan alam buana ini dari kedudukannya yang tinggi itu, datanglah orang menjoloknya dengan galah yang panjang. Tidak sabar menunggu kelapa tua itu jatuh sendiri. Bukannya selesa kena jolok-jolok macam
tu.

Bila tangkainya sudah lemah setelah dijolok beberapa kali, maka gugurlah kelapa tua itu berpusing-pusing ke bumi. Gugur itu pula bukannya rendah. Bukan setakat lima atau sepuluh kaki tapi sampai empat puluh hingga lima puluh kaki. Bunyinya berdentum sampai ke tanah. Allahuakbar! Kalau calang-calang buah, boleh berkecai. Kalau kepala orang, boleh bersepai.

Masalah kelapa tua ini tidak terhenti di situ sahaja. Ini baru muqaddimahnya. Dia dikutip dan kulit sabutnya dikoyak-koyak dan dibuang sedikit demi sedikit dengan parang. Proses ini bukan sekadar sekali tetak. Berpuluh-puluh kali parang itu menusuk ke dalam kulit sabutnya.Seksanya tak boleh nak diceritakan. Mula-mula sakit tusukan. Lepas itu sakit dikoyak dan disiat-siat. Ini berterusan sampai tempurung sahaja yang tinggal.

Bila dah sampai ke tempurung, maka tak apalah. Cantik juga rupanya. Keras dan bulat. Tetapi manusia bukan tahu hendak menilai seni yang seperti ini. Tempurung bulat yang cantik itu ditetak pula dengan parang dengan sebegitu kuat hingga terbelah dua di tengah-tengahnya. Maka tersembur dan mengalirlah air jernih dari dalam perutnya dan terdedahlah isinya yang putih lagi bersih.

Bagi kebanyakan kehidupan yang lain, kalau sudah sampai ke tahap ini, maka selesailah riwayat hidupnya. Tetapi bagi kelapa tua, ini baru permulaan. Banyak lagi seksaan yang menanti.

Tak cukup dengan bersemburkan air dari dalam perutnya dan mendedahkan isinya, isinya yang putih lagi bersih itu dipisahkan dari tempurung, diparut dan dikukur pula hingga menjadi lumat. Tempurungnya dibuang. Kadang-kadang di bakar. Bentuk asal kelapa tua sudah tidak ada lagi. Yang tinggal hanyalah
isinya yang sudah lumat dikukur dan diparut.

Untuk menambah seksanya lagi, dituang pula air ke dalam isi parut itu, diramas-ramas dan diperah-perah. Alangkah seksanya. Kalau hendak dikirakan, ini sudah terkeluar dari batas-batas perikemanusiaan. Kemudian ia ditapis airnya menjadi santan. Kelapa tua yang dulunya keras dan bulat kini sudah menjadi cecair yang putih.

Setelah itu, minyak dipanaskan dalam belanga. Bawang merah, rempah dan rencah-rencah yang lain ditumis. Bila sudah cukup kuning dituanglah santan tadi ke dalam belanga. Maka berpanasanlah santan itu hingga terkeluar minyaknya. Apabila sudah masak dan bau harumnya merebak ke seluruh ceruk rumah, maka orang pun bertanya:

Gulai apa tu? Sedap sangat baunya?

Orang di dapur hanya menjawab, Gulai ikan bawal.
Gulai dapat nama. Ikan bawal dapat nama.

Orang kata, Oh! Sedap gulai ni.
Oh! Sedap ikan bawal ni.

Jasa kelapa tua tenggelam begitu sahaja. Perjalanan dan pengalamannya yang begitu panjang dan menyeksakan dari sebiji kelapa tua di atas pokok yang tinggi hingga ke belanga yang panas berbahang, tidak ada siapa yang ambil kira atau ambil peduli.

Alangkah indahnya kalau kita dapat berjasa seperti kelapa tua ini. Jasa-jasa bukan untuk dipuji dan dipuja. Bukan untuk dikenang atau untuk mendapat nama, tapi untuk taabbud kepada Tuhan. Biarlah jasa-jasa kita tidak nampak di mata orang, tapi ada dalam perhatian Tuhan!

Tuesday, April 24, 2012 | By: Sebutir Kasih Sejuta Sayang

~Hapuslah Air Matamu~

ALLAH  menguji keikhlasan bila bersendirian ,

ALLAH  memberi kedewasaan bila ada masalah ,

ALLAH  melatih kesabaran dalam kesakitan ,

ALLAH  tak pernah mengambil sesuatu yang kita sayang kecuali menggantikan dengan yang lebih baik ...



Wahai sahabatku...



Saat dirimu bersedih dan hanya mampu menangis , berbicaralah pada akalmu yang bersih , hatimu yang suci dan jiwamu yang jernih..



“JANGAN PUTUS ASA DAN JANGAN PULA KECEWA TETAPI OPTIMISLAH , SESUNGGUHNYA ALLAH BESERTAKU , ALLAH AKAN MENOLONGKU , ALLAH YANG AKAN MEMBERIKAN KEBAHAGIAAN KEPADAKU DAN ALLAH LAH YANG MEMELIHARA DAN MELINDUNGIKU”..




Cukuplah kemuliaanmu dengan menjadi seorang muslim/muslimah.

 Bukan emas yang akan mempercantikkanmu , melainkan yang mempercantikkanmu adalah akhlakmu yang hasanah dan kekayaanmu adalah etikamu.



Jika sahabatku telah melakukan ‘kekeliruan’ pada masa lalu jadikanlah hal itu sebagai pengajaran kemudian jangan ulang lagi sesudah mengambil pelajaran darinya.



 Perbaikilah dirimu maka ALLAH akan rIdha terhadapmu.

Kukuhkanlah tekadmu dalam menghindari maksiat maupun hanya maksiat kecil niscaya engkau akan memperoleh kemudahan.



Peliharalah hati dari menduakan ALLAH dan Rasul NYA.

Jagalah hubungan mu dengan ALLAH niscaya ALLAH akan menjagamu. Ingatlah! Air mata taubat adalah air yang paling suci , gembiralah dengan hidup ini kerana hidup ini indah dan jadikanlah ia hamparan bagi setiap kebaikan , beramallah untuk akhirat seiring dengan duniamu..



Insya ALLAH. . .